Faunaland Siapkan Konsep City Zoo Modern jika Terpilih Kelola Bandung Zoo
- 11 Mei 2026 13:14 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung – Faunaland menyiapkan konsep kebun binatang modern berbasis edukasi dan konservasi apabila terpilih sebagai pengelola Bandung Zoo. Saat ini, proses penilaian pengelola baru masih dilakukan oleh Pemerintah Kota Bandung.
CEO Faunaland Danny Gunalen mengatakan, konsep yang diusung mengedepankan pengalaman interaktif bagi pengunjung sekaligus mendukung program edukasi Gerakan Reksawana Ilmu Pengetahuan Flora dan Fauna.
“Ini semua konsepnya adalah City Zoo yang berbasis edukasi dan konservasi. Kami sekarang mengembangkan area seluas 10 hektare. Dua hektare akan menjadi area walk-in zoo, sedangkan delapan hektare lainnya akan dikembangkan menjadi safari friendly dengan satwa-satwa jinak untuk masyarakat ibu kota maupun luar kota,” ujar Danny, Senin 11 Mei 2026.
Menurutnya, konsep tersebut dirancang berbeda dari kebun binatang pada umumnya dengan menghadirkan pengalaman yang lebih modern dan dekat dengan satwa. Salah satu konsep unggulan yang akan dihadirkan yakni walkthrough tiger trail, di mana pengunjung dapat merasakan pengalaman berada dekat dengan harimau secara aman.
“Konsepnya harus out of the box. Pengalaman yang kami tawarkan memungkinkan pengunjung masuk langsung ke area interaksi satwa, bukan hanya melihat dari luar kandang,” katanya.
Selain walkthrough tiger trail, Faunaland juga akan menghadirkan berbagai kandang interaktif dan koleksi satwa unik yang diklaim belum pernah ada di Indonesia maupun Asia Tenggara.
Danny menyebut salah satu koleksi unggulan yang direncanakan hadir adalah buaya putih yang disebut menjadi satu-satunya di Indonesia. Selain itu, Faunaland juga berencana menghadirkan satwa yang disebut sebagai “Real Life Pikachu” dari Australia pada tahap pengembangan berikutnya.
“Kami memiliki banyak koleksi satwa unik. Bahkan nanti akan ada Real Life Pikachu yang saat ini hanya ada di Australia dan Pond Island Group. Namun itu akan diluncurkan pada tahap berikutnya,” ucapnya.
Faunaland menargetkan memiliki lebih dari 100 jenis satwa yang terdiri dari aves, mamalia, reptil, amfibi, dan berbagai spesies lainnya dengan total populasi mencapai lebih dari seribu ekor.
Tak hanya menghadirkan satwa eksotis, pengelola juga ingin memperkenalkan kekayaan biodiversitas Jawa Barat kepada masyarakat. Salah satu satwa yang akan dijadikan ikon edukasi yakni macan tutul Jawa yang kini populasinya semakin langka.
“Macan tutul Jawa sangat penting karena menjadi bagian dari kekayaan biodiversitas Jawa Barat. Kami ingin masyarakat sadar bahwa mereka memiliki satwa endemik yang luar biasa dan harus dijaga,” katanya.
Selain macan tutul Jawa, Faunaland juga akan memperkenalkan babi kutil yang disebut sebagai salah satu babi hutan paling langka di dunia. Edukasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga satwa liar dan menghentikan perburuan.
Pengembangan kawasan kebun binatang juga disebut akan memadukan unsur budaya dan sejarah Kota Bandung. Pengelola berencana membangun pusat kebudayaan hingga museum yang menampilkan perjalanan sejarah Bandung dari masa kolonial hingga modern.
“Kami akan mempertahankan kultur dan budaya lokal. Enclosure satwa endemik Jawa Barat juga akan dirancang dengan mempertimbangkan unsur arsitektur budaya setempat,” ucapnya.
Dalam bidang konservasi, Danny mengungkapkan Faunaland telah menerima sejumlah penghargaan nasional maupun internasional. Pada 2025, pihaknya memperoleh tiga penghargaan dari Menteri Kehutanan atas program pelepasliaran satwa.
Faunaland juga menjadi mitra konservasi dua institusi internasional, yakni Bin Zayed Conservation dari Uni Emirat Arab dan Fantara milik Rambani di India.
“Kami juga bermitra dengan pemerintah untuk konservasi satwa di habitat aslinya. Kami bahkan sudah melakukan vaksinasi gajah liar di taman nasional dan ke depan akan membangun rumah sakit gajah dengan dukungan luar negeri tanpa menggunakan anggaran negara,” katanya.
Meski optimistis mampu mengelola Bandung Zoo, Danny menegaskan keputusan akhir tetap berada di tangan pemerintah daerah. Ia menilai tantangan utama pengelolaan kebun binatang modern terletak pada kualitas sumber daya manusia, tenaga ahli, fasilitas, hingga pembiayaan operasional.
“Yang paling penting adalah kesejahteraan satwa. Tantangannya besar, mulai dari SDM, fasilitas, kebutuhan biologis satwa, hingga anggaran. Tanpa dukungan finansial yang kuat, kesejahteraan manusia maupun hewan tidak mungkin berjalan optimal,” tandasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....