Radio Tak Pernah Padam: KPID Jabar Dorong Literasi Publik di tengah Arus Digital
- 08 Mei 2026 10:53 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Perkembangan media digital yang semakin pesat menimbulkan tantangan baru bagi dunia penyiaran. Wakil Ketua KPID Jawa Barat, Almadina Rakhmaniar, menegaskan perlunya keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab sosial dalam produksi konten. Hal ini disampaikan dalam program Bandung Menyapa Pagi RRI Pro 1 Bandung. Jumat 8 Mei 2026.
Menurut Alma, media kini harus menyikapi derasnya arus informasi dengan cara mengemas tayangan yang tidak hanya menarik, tetapi juga lengkap dan mendidik. “Kami melihat dari dua sisi: pembuat konten dan penikmat konten. Keduanya perlu diliterasi agar tercipta ekosistem media yang sehat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, lembaga penyiaran konvensional seperti televisi dan radio sudah memahami regulasi P3SPS. Namun, konten kreator digital masih minim pengetahuan tentang aturan tersebut. “Sekolah P3SPS perlu diperluas ke konten kreator. Mereka bebas berekspresi, tetapi tetap harus bertanggung jawab secara sosial. Kalau tidak, generasi penerus bangsa bisa kehilangan arah,” tegas Alma.
Lebih lanjut, Alma menekankan bahwa televisi dan radio tidak boleh kalah bersaing dengan media digital. Justru, lembaga penyiaran konvensional memiliki keunggulan karena sudah lengkap dengan regulasi dan mekanisme pengawasan. “TV dan radio harus tetap menjadi rujukan utama masyarakat. Jangan khawatir tergerus, karena kita punya fondasi yang kuat,” katanya.
Selain pembuat konten, masyarakat sebagai penikmat media juga perlu diliterasi agar cerdas dalam memilih tayangan. “Kalau masyarakat sudah cerdas bermedia, mereka akan memilih konten yang sesuai regulasi dan kebutuhan. Bukan sekadar hiburan instan, tetapi informasi yang mencerdaskan,” tambahnya.
Dalam perspektif psikologi komunikasi, Alma menilai penting adanya indikator siaran sehat bagi publik. Tayangan yang sehat tidak hanya menghibur, tetapi juga menjaga kondisi psikologis masyarakat agar tidak terjebak dalam arus informasi yang menyesatkan. “Media harus mampu menjadi penyeimbang, bukan justru menambah beban mental masyarakat,” jelasnya.
Program Bandung Menyapa Pagi juga membuka ruang interaksi bagi pendengar melalui WhatsApp, telepon, dan siaran langsung di TikTok. Hal ini menunjukkan komitmen RRI Bandung untuk menghadirkan dialog publik yang inklusif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Alma menutup dengan penegasan bahwa radio tetap memiliki peran vital, terutama dalam kondisi darurat. “Radio tidak akan pernah padam. Dalam bencana, radio terbukti efektif menyampaikan informasi, bahkan saat listrik padam atau jaringan telekomunikasi terganggu. Radio adalah suara harapan yang selalu hadir,” tandanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....