Konten Instan, Regulasi Absen: Alarm KPID Jabar atas Krisis Mental Masyarakat
- 08 Mei 2026 10:43 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Perubahan pola konsumsi media di era digital menjadi perhatian serius Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat. Wakil Ketua KPID Jabar, Almadina Rakhmaniar, menegaskan bahwa pergeseran dari televisi dan radio ke media berbasis internet membawa konsekuensi psikologis yang signifikan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan perempuan.
Menurut Alma, hasil riset KPID Jabar sejak 2024 hingga 2025 menunjukkan masyarakat kini lebih banyak mengakses tayangan instan melalui internet. “Konten yang cepat, instan, dan belum tentu terverifikasi kebenarannya mudah sekali dikonsumsi. Ini menimbulkan kekhawatiran, terutama ketika informasi yang belum valid langsung dibagikan berulang kali,” ujarnya dalam Bandung Pagi Ini RRI Bandung, Jumat 8 Mei 2026.
Ia menambahkan, ketimpangan regulasi menjadi salah satu faktor utama. Jika televisi dan radio memiliki aturan jelas mulai dari Undang-undang Penyiaran hingga P3SPS, berbanding terbalik dengan media digital yang masih bebas tanpa pengawasan ketat. “Akibatnya, masyarakat sering bertindak impulsif, menyebarkan informasi tanpa konfirmasi, hingga memicu kepanikan,” kata Alma.
Riset KPID Jabar tahun 2025 yang berfokus pada generasi Z menemukan dampak serius terhadap aspek kognitif, afektif, dan konatif. Generasi digital native ini terbiasa dengan arus informasi cepat melalui gawai mereka. “Paparan terus-menerus membuat pola perilaku berubah. Anak-anak dan perempuan menjadi kelompok paling rentan,” jelasnya.
Fenomena konsumsi media juga berbeda antar generasi. Generasi Z cenderung mengikuti tren viral tanpa verifikasi, sementara generasi milenial dan baby boomer masih mengandalkan televisi dan radio sebagai sumber informasi yang lebih terpercaya. “Masyarakat kini lebih memilih informasi yang mereka inginkan, bukan yang mereka butuhkan. Akhirnya hiburan menjadi dominan,” tambah Alma.
Dari penelitian KPID Jabar, terdapat lima dampak psikologis utama akibat konsumsi media berlebihan. Pertama, lebih dari 30% responden mengalami nomophobia atau ketakutan berlebihan saat tidak memiliki gawai. Kedua, gangguan fokus dialami lebih dari 60% masyarakat karena terbiasa dengan konten singkat dan cepat. Ketiga, lebih dari 50% responden mengalami stres dan gangguan mental.
Keempat, fenomena social comparison muncul ketika generasi Z membandingkan diri dengan konten orang lain di media sosial. “Mereka menganggap realitas ada di media sosial, padahal itu hanya potret terbaik yang dipilih untuk ditampilkan. Akibatnya muncul perilaku manipulatif, termasuk membuat akun kedua untuk menampilkan diri yang berbeda,” ungkap Alma.
Kelima, perilaku manipulatif ini semakin mengkhawatirkan karena menciptakan jurang antara identitas nyata dan identitas maya. “Generasi Z banyak yang membangun konsep diri ideal di akun utama, sementara jati diri sesungguhnya disembunyikan di akun lain. Ini berbahaya bagi perkembangan psikologis mereka,” tegasnya.
KPID Jabar menekankan pentingnya regulasi dan literasi digital agar masyarakat tidak terjebak dalam arus informasi instan. “Kami berharap masyarakat lebih kritis dalam mengonsumsi media, dan pemerintah memperkuat regulasi di ranah digital. Media harus menjadi sarana edukasi, bukan sekadar hiburan yang menimbulkan dampak psikologis negatif,” tutup Alma.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....