DLH Kota Bandung Siapkan Kompospit di Setiap SPPG untuk Tekan Lonjakan Sampah

  • 07 Mei 2026 10:11 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung mulai menyiapkan strategi pengelolaan sampah organik di setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Langkah tersebut dilakukan menyusul potensi peningkatan volume sampah organik yang diperkirakan mencapai puluhan ton per hari.

‎Kepala DLH Kota Bandung Darto menyebutkan, setiap SPPG diperkirakan menghasilkan sampah organik sekitar 20 hingga 30 kilogram per hari. Jika jumlah SPPG mencapai 200 titik, maka total tambahan sampah organik di Kota Bandung dapat mencapai sekitar 50 hingga 60 ton setiap harinya.

‎“Per SPPG menghasilkan sekitar 20 sampai 30 kilogram sampah per hari. Kalau dikalikan 200 SPPG, maka total tambahan sampah organik bisa mencapai 50 sampai 60 ton per hari. Jadi total sampah organik kita jelas bertambah dan mendekati angka 100 ton,” ujar Darto, Kamis 7 Mei 2026.

‎Menurutnya, pemerintah kota telah menyiapkan konsep pengolahan sampah organik berbasis sumber melalui pembangunan kompospit di setiap SPPG. Konsep tersebut dinilai menjadi solusi agar sampah tidak seluruhnya dibawa ke tempat pengolahan akhir.

‎DLH Kota Bandung saat ini tengah menyusun penerapan teknis agar setiap SPPG memiliki fasilitas kompospit dengan kapasitas lubang dan volume yang memadai sesuai jumlah sampah yang dihasilkan.

‎“Konsepnya sudah ada dan akan kita dorong. Rumusnya juga sudah ditemukan, tinggal implementasinya saja. Nanti setiap SPPG akan punya kompospit dengan jumlah lubang atau volume yang cukup,” katanya.

‎Ia menjelaskan, pengolahan sampah organik langsung di sumber menjadi langkah penting untuk mengurangi beban pengangkutan sampah di Kota Bandung. Apabila sistem tersebut belum berjalan efektif, sampah organik masih akan diangkut sementara waktu sambil menunggu optimalisasi pengolahan mandiri di tiap lokasi.

‎Selain itu, DLH Kota Bandung juga mulai menerapkan pola pemilahan sampah menjadi tiga kategori utama, yakni organik, high value, dan low value. Sampah bernilai ekonomi tinggi atau high value disebut sudah banyak dimanfaatkan masyarakat karena memiliki nilai jual.

‎“Sampah itu nanti dibagi menjadi tiga besar, yaitu organik, high value, dan low value. Yang high value ini sudah laku dan dipulung karena bisa menghasilkan uang,” ucapnya.

‎Sementara untuk kategori low value atau sampah bernilai rendah, DLH Kota Bandung berencana memanfaatkannya sebagai bahan baku Refuse Derived Fuel (RDF). Saat ini, pemerintah kota disebut tengah mempersiapkan pembangunan serta pengembangan sistem pengolahan RDF tersebut.

‎“Yang low value ini sedang kita carikan jalan tengahnya, salah satunya menggunakan RDF. Sekarang proses pembangunan dan pengembangannya sedang berjalan,” tandasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....