Pengolahan Sampah Organik di Pasar Induk ‎Gedebage Meningkat

  • 29 Apr 2026 14:47 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Pengolahan sampah di kawasan Pasar Induk Gedebage, Bandung, terus menunjukkan tren peningkatan signifikan. Fokus utama pengolahan diarahkan pada sampah organik seperti sayur dan buah melalui metode biodigester, seiring meningkatnya pasokan dari program Gaslah (Gerakan Sadar Olah Sampah).

‎Direktur Utama PT Prosignal Karya Lestari, Aldi Ridwansyah, mengungkapkan bahwa rata-rata pasokan sampah organik dari setiap kelurahan mencapai sekitar 500 kilogram atau setengah ton per hari dalam kondisi optimal. Sampah tersebut umumnya masuk ke fasilitas pengolahan mulai pukul 07.30 hingga 12.00 WIB.

‎“Grafik tonase Gaslah di seluruh Kota Bandung saat ini sudah mencapai 92 ton. Dalam sebulan terakhir ada peningkatan cukup signifikan. Dulu hanya berkisar 20–25 ton per hari, sekarang sudah mencapai 30–35 ton per hari,” ujar Aldi saat ditemui di Balai Kota Bandung, Rabu 29 April 2026.


‎Menurut Aldi, peningkatan ini dipicu oleh bertambahnya wilayah yang aktif mengirimkan sampah organik. Saat ini, sedikitnya enam kecamatan telah rutin berkontribusi setiap hari, dengan Kecamatan Kiaracondong menjadi salah satu penyumbang terbesar.

‎Ia menjelaskan, sampah olah dapur (SOD) menjadi jenis sampah yang paling mudah diolah. Dalam waktu satu hari, sampah tersebut sudah dapat diproses menjadi bahan baku kompos. Bahkan, pihaknya masih memiliki kapasitas untuk menangani tambahan hingga 20 ton sampah per hari dari potensi overload Gaslah.

‎Meski demikian, Aldi menilai masih banyak wilayah yang belum optimal dalam mengirimkan sampah organik. Kendala utama berasal dari faktor jarak dan distribusi, terutama bagi wilayah yang jauh dari Gedebage. Beberapa kelurahan seperti Sukajadi, Sukagalih, Cipedes, dan Pajajaran disebut sudah rutin mengirimkan sampah, namun masih ada wilayah lain yang belum terpetakan secara optimal.

‎“Untuk wilayah sekitar Gedebage relatif sudah optimal. Tapi untuk wilayah yang lebih jauh, kemungkinan masih terkendala distribusi atau pengolahan di wilayah masing-masing,” jelasnya.

‎Selain menerima sampah, fasilitas pengolahan di Gedebage juga mendistribusikan kembali kompos kepada para pengirim. Dalam satu kali pengiriman, petugas Gaslah biasanya membawa sekitar 500 kilogram sampah organik, dan saat kembali dapat membawa kompos antara 300 hingga 600 kilogram, tergantung kapasitas.

‎Aldi menyebut, saat ini sudah ada sekitar 15 kelurahan yang rutin terlibat dalam program ini. Beberapa di antaranya berasal dari Kecamatan Kiaracondong, Mekar Mulya, Panyileukan, Gedebage, Cicendo, dan Sukajadi.

‎Keunggulan lain dari sistem ini adalah pemilahan sampah yang sudah dilakukan sejak dari sumber. Sampah yang masuk melalui program Gaslah umumnya sudah terpilah dengan baik, sehingga mempermudah proses pengolahan.

‎“TPST Gedebage memang didesain khusus untuk pengolahan sampah organik, bukan residu. Dengan adanya lonjakan Gaslah, apalagi setelah Lebaran, kami bahkan sempat menghentikan sementara pengolahan residu domestik agar fokus ke organik,” katanya.

‎Selain sampah dapur, beberapa kelurahan juga mengirimkan bahan pendukung seperti ranting dan daun kering yang berfungsi sebagai starter kompos. Material ini penting untuk menjaga keseimbangan karbon dalam proses pengomposan.

‎Aldi optimistis, jika seluruh wilayah di Kota Bandung dapat mengoptimalkan program Gaslah, maka volume pengolahan sampah organik bisa meningkat hingga 40 ton tambahan per hari.

‎“Kalau semua wilayah sudah optimal, potensi peningkatan sangat besar. Ini bisa jadi solusi nyata mengurangi beban sampah kota,” tandasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....