Harga Energi Non-Subsidi Melonjak, Pemkot Bandung Terapkan Kebijakan Hemat

  • 23 Apr 2026 11:34 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Pemerintah Kota Bandung mulai mengambil langkah tegas dalam merespons lonjakan harga energi non-subsidi yang dinilai semakin signifikan. Kenaikan harga bahan bakar, gas, hingga minyak non-subsidi mendorong Pemkot untuk memperketat efisiensi operasional di berbagai lini pemerintahan.

‎Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengungkapkan bahwa kondisi saat ini menuntut adanya kebijakan konkret guna menekan penggunaan energi di lingkungan pemerintahan.

‎“Gas naik non-subsidi ini semua ya, bahan bakar, gas maupun minyak non-subsidi itu naiknya luar biasa, sangat signifikan. Artinya kita harus melakukan efisiensi operasional yang sangat luar biasa,” ujar Farhan, Kamis 23 April 2026.


‎Salah satu kebijakan yang akan diterapkan adalah pembatasan penggunaan kendaraan bermotor bagi pejabat di lingkungan Pemkot Bandung. Mulai pekan depan, seluruh pejabat Eselon II dan III dilarang membawa kendaraan pribadi setiap hari Jumat.

‎“Kami sudah umumkan bahwa mulai Senin, seluruh pimpinan Eselon 3 dan Eselon 2 di Pemerintahan Kota Bandung pada hari Jumat tidak boleh membawa kendaraan bermotor,” jelasnya.

‎Meski demikian, Farhan menambahkan bahwa pejabat masih diperbolehkan diantar ke kantor, namun tidak diizinkan untuk memarkirkan kendaraan di area perkantoran. Kebijakan ini diharapkan dapat mengurangi konsumsi bahan bakar sekaligus menjadi contoh bagi masyarakat dalam penghematan energi.

‎Selain itu, Pemkot Bandung juga akan memperketat sistem Work From Home (WFH) sebagai bagian dari strategi efisiensi. Pengawasan terhadap pelaksanaan WFH akan dilakukan secara real-time untuk memastikan efektivitas kinerja aparatur sipil negara.

‎“Kami akan menunjukkan kepada media bagaimana bentuk pengawasan real time dari WFH tersebut. Ini untuk memastikan efisiensi operasional melalui penghematan energi benar-benar berjalan,” katanya.

‎Farhan menegaskan, kebijakan ini bukan hanya langkah jangka pendek, melainkan bagian dari upaya adaptasi terhadap kondisi ekonomi dan ketersediaan energi yang semakin terbatas.

‎“Karena harganya makin tinggi, barangnya pun makin langka. Jadi kita harus benar-benar bijak dalam penggunaan energi,” tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....