Siliwangi Santri Camp, Perkuat Peran Santri dalam Ketahanan Pangan

  • 18 Apr 2026 15:36 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung — Memasuki hari kedua pelaksanaan Siliwangi Santri Camp (SSC) 2026, sebanyak 1.000 santri dari berbagai daerah di Jawa Barat dan Banten menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengikuti rangkaian kegiatan yang menggabungkan nilai keislaman dengan wawasan kebangsaan dan bela negara.

Kegiatan yang diinisiasi oleh Pangdam III/Siliwangi bersama Ikatan Alumni Lemhanas Angkatan 62 ini dimulai sejak dini hari. Para peserta mengawali aktivitas pada pukul 03.00 WIB dengan qiyamul lail, dilanjutkan sholat subuh berjamaah, muhasabah diri, hingga olahraga pagi dan latihan bela diri. Setelah itu, para santri mengikuti kegiatan masak rimba dan sarapan bersama sebelum masuk ke sesi pelatihan seperti Peraturan Baris Berbaris (PBB), disiplin, kepemimpinan bela negara, simulasi P3K, serta teknik survival.

Pada sesi siang, materi pembekalan semakin diperdalam dengan berbagai topik strategis. Salah satu yang menjadi sorotan adalah pemaparan dari Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian RI, Suwandi, yang menekankan pentingnya ketahanan pangan sebagai fondasi utama ketahanan nasional.

Menurut Suwandi, kekuatan sebuah bangsa tidak bisa dilepaskan dari kemampuannya memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri. Ia menilai program SSC menjadi sarana efektif dalam menanamkan kesadaran tersebut kepada generasi muda, khususnya kalangan santri.

“Ketahanan pangan dan ketahanan nasional adalah satu kesatuan. Jika pangan terjaga, maka stabilitas negara juga akan kuat,” ujarnya saat memberikan materi di Rindam III/Siliwangi, Kota Bandung, Sabtu 18 April 2026.

Ia juga mengapresiasi konsep SSC yang dinilai mampu mengintegrasikan pendidikan karakter, nasionalisme, dan keterampilan praktis dalam satu wadah. Program ini bahkan disebutnya layak menjadi model pembinaan generasi muda di berbagai daerah.

Dalam pemaparannya, Suwandi menjelaskan bahwa pemerintah terus memperkuat kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan TNI dan Polri, guna mencapai target swasembada pangan nasional. Ia menyebut keberhasilan tersebut tidak lepas dari kerja sama berbagai pihak.

Selain itu, ia menyinggung program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai memberikan dampak ekonomi signifikan bagi petani. Program tersebut tidak hanya menjamin pasar hasil pertanian, tetapi juga meningkatkan perputaran ekonomi di pedesaan.

Pemerintah, lanjutnya, juga tengah mendorong hilirisasi produk pertanian guna meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan petani. Langkah ini dinilai efektif dalam menekan angka kemiskinan serta memperkuat ekonomi berbasis desa.

Dalam konteks pesantren, Suwandi menilai potensi sektor pertanian sangat besar untuk dikembangkan. Banyak pesantren yang telah mengelola lahan pertanian, hortikultura, hingga perkebunan secara mandiri, bahkan terintegrasi dengan koperasi.

“Pesantren bisa menjadi pusat produksi sekaligus distribusi pangan. Ini selaras dengan program pemerintah dan dapat diperkuat melalui kolaborasi dengan berbagai pihak,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya menanamkan nilai nasionalisme kepada para santri, tidak hanya melalui teori, tetapi juga praktik nyata seperti mencintai produk dalam negeri dan menghargai hasil kerja petani.

Menutup materinya, Suwandi berpesan agar para peserta SSC mampu menjadi agen perubahan di daerah masing-masing. Ia berharap nilai-nilai yang diperoleh selama kegiatan dapat diimplementasikan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Siliwangi Santri Camp 2026 sendiri menjadi wadah pembentukan karakter generasi muda yang tidak hanya religius, tetapi juga memiliki semangat kebangsaan yang kuat serta kesiapan menghadapi tantangan masa depan, khususnya dalam bidang ketahanan pangan dan pertahanan negara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....