Banjir Bandung Selatan, Kapasitas Sungai dan Infrastruktur Air Tertekan

  • 17 Apr 2026 14:14 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Curah hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Bandung dalam beberapa hari terakhir meningkatkan potensi banjir di sejumlah kawasan, khususnya di Bandung Selatan seperti Dayeuhkolot dan Baleendah. Kondisi ini berdampak pada menurunnya kemampuan sungai dan saluran air dalam menampung debit air.

Pelaksana Teknik OPSDA II BBWS Citarum, Asep Rochiman, menjelaskan bahwa banjir yang kerap terjadi dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Menurutnya, penyebab banjir tidak hanya berasal dari faktor alam, tetapi juga dipicu oleh aktivitas manusia serta kondisi infrastruktur yang ada.

“Faktor penyebabnya itu kombinasi, mulai dari alam, aktivitas manusia, kondisi infrastruktur dari hulu ke hilir, hingga persoalan sampah,” ujarnya, Kamis 16 April 2026.

Ia menuturkan, salah satu penyumbang peningkatan debit air di kawasan Dayeuhkolot berasal dari aliran irigasi Cipalasari. Irigasi tersebut memiliki beberapa jalur pembuangan yang terhubung ke berbagai titik, sehingga menambah volume air yang mengalir ke sungai utama saat hujan deras.

Akibatnya, Sungai Citarum sebagai muara utama mengalami peningkatan beban air yang signifikan. Hal ini memperbesar risiko meluapnya air ke kawasan permukiman.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, BBWS Citarum telah melakukan sejumlah langkah, di antaranya menutup beberapa aliran serta memasang sistem klep satu arah guna mencegah aliran balik air ke wilayah warga.

"Untuk citarum, kami dari BBWS sudah tutup semua, yang dari BBS ditutup, dari BBS kita pasang dukbill [klep satu arah]," katanya.

Selain itu, permasalahan juga ditemukan di Sub DAS Cikapundung Kota, terutama pada titik jembatan yang memiliki posisi lebih rendah dibandingkan tanggul. Kondisi ini memicu terjadinya limpasan air saat debit meningkat dari wilayah hulu.

Pemerintah daerah disebut telah melakukan penanganan dengan pemasangan pintu air guna mengurangi risiko luapan di kawasan tersebut.

Di sisi lain, tingginya sedimentasi di dasar sungai dan saluran irigasi turut memperparah kondisi. Endapan tersebut menyebabkan kapasitas tampung air berkurang, sehingga air lebih mudah meluap ketika hujan deras terjadi.

Asep menambahkan, perbedaan warna air yang menggenangi permukiman dapat menjadi indikator sumber banjir, apakah berasal dari Sungai Citarum atau dari saluran irigasi.

Ia juga menyoroti adanya fenomena aliran balik (backwater) dari drainase dan irigasi yang memperparah genangan di daerah dataran rendah, termasuk wilayah Majalaya.

Menurutnya, keterbatasan kapasitas infrastruktur air saat ini menjadi tantangan utama dalam pengendalian banjir di Bandung. Oleh karena itu, diperlukan langkah penanganan jangka panjang seperti normalisasi sungai serta penataan dan perlindungan saluran irigasi agar dapat berfungsi secara optimal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....