Pemkot Bandung Dorong Integrasi Kang Pisman, Buruan Sae dan Dashat

  • 15 Apr 2026 11:52 WIB
  •  Bandung

‎RRI.CO.ID, Bandung – Pemerintah Kota Bandung mendorong integrasi tiga program unggulan, yakni Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan), Buruan Sae, dan Dahsat (Dapur Sehat Atasi Stunting), dalam satu sistem sirkulasi berkelanjutan. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan nilai ekonomi masyarakat, sekaligus menekan angka stunting di Kota Bandung.

‎Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Bandung, Anhar Hadian, mengatakan ketiga program tersebut sejatinya sudah berjalan di berbagai wilayah. Namun, pelaksanaannya dinilai belum optimal sehingga perlu diperkuat melalui pola kolaborasi yang terintegrasi.

‎“Pak Wali mengharapkan ketiga program ini bisa bekerja sama dan berkoordinasi dalam bentuk sirkulasi yang terus berputar,” ujar Anhar, Rabu 15 April 2026.

‎Ia menjelaskan, konsep sirkulasi tersebut dimulai dari program Kang Pisman yang menghasilkan produk seperti kompos dan maggot dari pengolahan sampah organik. Produk tersebut kemudian dimanfaatkan oleh kelompok Buruan Sae untuk mendukung kegiatan pertanian dan peternakan skala rumah tangga.

‎Selanjutnya, hasil produksi Buruan Sae seperti sayuran, telur, hingga daging akan diserap oleh program Dashat untuk diolah menjadi Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita yang mengalami masalah gizi. Dalam siklus ini, Dashat juga akan mengembalikan sampah organiknya ke Kang Pisman untuk kembali diolah, sehingga tercipta ekosistem yang berkelanjutan.

‎“Selama ini memang sudah ada praktik di lapangan. Misalnya, Dashat membutuhkan telur atau sayuran, lalu meminta ke Buruan Sae. Ke depan polanya bukan lagi meminta, tetapi membeli, sehingga ada perputaran ekonomi di masyarakat,” jelasnya.

‎Menurut Anhar, pendekatan ini tidak hanya memperkuat kemandirian program Buruan Sae dan Kang Pisman, tetapi juga memberikan dampak ekonomi langsung bagi warga. Dengan adanya transaksi, masyarakat yang terlibat diharapkan semakin termotivasi untuk mengembangkan usaha berbasis lingkungan dan pangan.

‎Ia menambahkan, secara struktur, program Dashat hanya terdapat satu di setiap kelurahan. Sementara itu, Kang Pisman dan Buruan Sae bisa lebih dari satu, tergantung potensi wilayah. Oleh karena itu, koordinasi di tingkat kewilayahan menjadi kunci keberhasilan implementasi program ini.

‎“Tidak ada koordinator khusus, namun lurah diminta menjadi penggerak dengan dukungan camat dan seluruh aparat kewilayahan,” katanya.

‎Berdasarkan data DPPKB Kota Bandung, saat ini sebanyak 91 kelurahan telah menyatakan kesiapan untuk menjalankan sistem sirkulasi tersebut. Meski demikian, Anhar mengakui sebagian besar kegiatan yang berjalan saat ini masih belum memiliki nilai ekonomi yang signifikan.

‎Namun, ia optimistis perubahan pola dari konsumtif menjadi produktif akan meningkatkan nilai tambah program ke depan. Bahkan, di salah satu kelurahan sudah mulai terjadi transaksi pembelian hasil Buruan Sae, seperti daging ayam.

‎“Targetnya program ini bisa segera diluncurkan secara resmi pada bulan April ini,” tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....