BMKG Bandung Imbau Kesiapsiagaan Hadapi Kemarau 2026

  • 14 Apr 2026 12:06 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika melalui Stasiun Klimatologi Jawa Barat mengungkapkan bahwa wilayah Jawa Barat kini telah memasuki musim kemarau tahun 2026. Bahkan, musim kemarau tahun ini diprediksi datang lebih cepat dari biasanya dan berlangsung lebih panjang.

‎Prakirawan Stasiun Klimatologi Jawa Barat, Vivi Indhira, menjelaskan bahwa sejumlah wilayah sudah lebih dulu memasuki musim kemarau sejak Maret 2026. Di antaranya adalah Kota Bekasi dan Kabupaten Karawang bagian utara. Sementara itu, wilayah lain mulai memasuki musim kemarau pada April, seperti Karawang bagian tengah, Subang bagian tengah, serta sebagian wilayah Indramayu.

‎“Sebanyak 56 persen wilayah di Jawa Barat diprediksi akan memasuki musim kemarau pada bulan Mei,” ujar Vivi, Selasa 14 April 2026.


‎Ia menambahkan, wilayah lainnya akan menyusul memasuki musim kemarau pada Juni. Daerah tersebut meliputi sebagian besar Kabupaten Bogor, Sukabumi bagian utara, Cianjur bagian tengah, Bandung Barat bagian timur, Kota Bandung, Bandung bagian barat, Garut bagian tenggara, Tasikmalaya bagian selatan, hingga Pangandaran bagian barat.

‎Selain itu, sekitar dua persen wilayah Jawa Barat yang termasuk dalam kategori zona tipe satu musim berada di Kota Bogor, Bogor bagian tengah, serta sebagian kecil Sukabumi bagian utara.

‎Jika dibandingkan dengan kondisi klimatologis normal, sebanyak 66 persen wilayah Jawa Barat diprediksi mengalami musim kemarau lebih cepat dari biasanya. Sementara 25 persen wilayah lainnya diperkirakan mengalami kemarau sesuai kondisi normal, dan sekitar 7 persen wilayah diprediksi mengalami kemarau yang datang lebih lambat.

‎Dari sisi karakteristik, musim kemarau tahun ini juga diprediksi akan lebih kering. Sebanyak 93 persen wilayah Jawa Barat diperkirakan mengalami kemarau dengan curah hujan di bawah normal, sedangkan hanya 7 persen wilayah yang diprediksi mengalami kondisi normal.

‎“Sebagian besar wilayah Jawa Barat diprediksi akan mengalami puncak musim kemarau pada Agustus, yakni sekitar 90 persen wilayah. Sisanya, 8 persen wilayah pada Juli dan 2 persen wilayah pada September,” katanya.

‎Tak hanya datang lebih awal, durasi musim kemarau tahun ini juga diperkirakan lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, krisis air bersih, hingga kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah.

‎Mengantisipasi hal tersebut, BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk melakukan langkah-langkah strategis. Di antaranya dengan mengoptimalkan operasi waduk dan bendungan, mempercepat pembangunan maupun rehabilitasi embung serta tampungan air, serta menerapkan penghematan penggunaan air.

‎Untuk sektor pertanian, petani diimbau menyesuaikan kalender tanam dengan menghindari puncak musim kemarau, serta menggunakan varietas tanaman yang tahan kekeringan dan berumur pendek.

‎Selain itu, kesiapsiagaan di sektor kebencanaan juga perlu ditingkatkan, terutama dalam menghadapi potensi kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan.

‎“Perlu kewaspadaan bersama agar dampak musim kemarau panjang ini bisa diminimalkan,” tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....