Damkar Cimahi: Dari Memadamkan Api hingga Menjadi Tempat Curhat Warga
- 31 Mar 2026 19:41 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Cimahi - Peran petugas pemadam kebakaran tidak lagi sebatas memadamkan api dan melakukan penyelamatan saat terjadi bencana. Di Kota Cimahi, tugas tersebut berkembang menjadi lebih luas, bahkan menyentuh sisi sosial dan psikologis masyarakat.
Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Cimahi kerap menerima laporan yang tidak biasa. Selain menangani kebakaran dan evakuasi hewan, petugas juga menghadapi panggilan warga yang membutuhkan tempat berbagi cerita, termasuk persoalan pribadi hingga kondisi mental yang rentan.
Kepala Bidang Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Damkar Kota Cimahi, Achmad Suparlan, mengungkapkan bahwa pihaknya pernah menerima panggilan dari warga yang berniat mengakhiri hidup.
Dalam situasi tersebut, petugas berupaya memberikan pendekatan persuasif agar warga mengurungkan niatnya.
“Petugas memberikan edukasi dan menenangkan, sampai akhirnya yang bersangkutan membatalkan niatnya,” ujar Achmad, Selasa 30 Maret 2026.
Menurutnya, kasus serupa umumnya dipicu tekanan dalam kehidupan rumah tangga maupun persoalan asmara, baik di kalangan pasangan menikah maupun remaja.
Tak hanya itu, Damkar Cimahi juga kerap menerima permintaan bantuan di luar tugas utama, seperti menghadiri perayaan ulang tahun hingga membantu mengambil rapor sekolah karena orang tua berhalangan hadir.
Selain laporan unik, petugas juga sering menghadapi panggilan akibat ketakutan berlebihan warga terhadap hewan berukuran kecil. Dalam sejumlah kasus, warga meminta bantuan hanya karena melihat hewan yang sebenarnya tidak berbahaya.
“Ada yang panik hanya karena hewan kecil, padahal bisa diatasi sendiri. Tapi karena fobia, akhirnya meminta bantuan Damkar,” ucap Achmad.
Pengalaman tak kalah menarik juga terjadi saat petugas diminta menangkap hewan berukuran besar yang disebut warga sebagai beruang madu. Setelah ditangani, diketahui hewan tersebut sudah jinak dan bukan sepenuhnya satwa liar.
Di sisi lain, dalam penanganan kebakaran, petugas juga dihadapkan pada perilaku warga yang kerap diliputi kepanikan. Kondisi ini sering memicu tindakan di luar nalar, seperti mengarahkan petugas untuk memprioritaskan rumah tertentu meski tidak berada dalam titik api.
Achmad menuturkan, kepanikan juga terlihat saat warga berbondong-bondong membantu pemadaman dengan peralatan seadanya, seperti ember kecil yang tidak efektif untuk mengatasi api berskala besar.
“Situasi panik membuat masyarakat bertindak spontan tanpa mempertimbangkan efektivitasnya,” katanya.
Ia menambahkan, dalam beberapa kasus, emosi warga bahkan sulit dikendalikan karena tekanan situasi saat kebakaran berlangsung.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa tugas Damkar tidak hanya menuntut kesiapan fisik, tetapi juga kemampuan menghadapi dinamika sosial dan psikologis masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....