Dinkes Kota Bandung Gencarkan Imunisasi Campak

  • 31 Mar 2026 15:29 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung mengajak masyarakat untuk segera melengkapi imunisasi Campak sebagai langkah utama menekan risiko penularan penyakit yang tengah mengalami peningkatan kasus di wilayah tersebut.

‎Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Bandung, Dadan Mulyana Kosasih, menegaskan bahwa imunisasi merupakan kunci utama dalam melindungi anak-anak dari penyakit campak yang sangat menular.

‎“Campak ini penyakit yang sangat mudah menular, bahkan lebih tinggi dari Covid-19. Satu orang bisa menularkan ke 17 sampai 18 orang. Tapi ini bisa dicegah dengan imunisasi,” ujar Dadan, Selasa 31 Maret 2026.

‎Hingga Maret 2026, Dinkes Kota Bandung mencatat sebanyak 248 kasus suspek campak, dengan 28 kasus di antaranya telah terkonfirmasi. Meski demikian, seluruh pasien dilaporkan telah membaik dan tidak terdapat kasus kematian.


‎Dadan mengungkapkan, mayoritas kasus terjadi pada kelompok balita. Dari jumlah tersebut, sekitar 69 persen kasus ditemukan pada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi campak.

‎“Ini menunjukkan pentingnya imunisasi. Mayoritas kasus yang kita temukan justru terjadi pada anak yang belum diimunisasi,” katanya.

‎Berdasarkan data Dinkes, cakupan imunisasi campak rubella di Kota Bandung masih belum mencapai target nasional sebesar 95 persen. Imunisasi dasar campak (MR1) pada bayi usia 9 bulan tercatat sebesar 84,3 persen pada 2024 dan 2025. Sementara itu, imunisasi lanjutan (MR2) pada usia 18 bulan masih lebih rendah, yakni 59,5 persen pada 2024 dan meningkat menjadi 66,9 persen pada 2025.

‎Adapun cakupan imunisasi pada anak kelas 1 SD berada di angka 87 persen. ‎“Masih ada kesenjangan antara imunisasi dasar dan lanjutan. Banyak yang menganggap cukup di usia 9 bulan, padahal imunisasi lanjutan di 18 bulan itu wajib,” jelasnya.

‎Sebagai upaya percepatan, Dinkes Kota Bandung terus menggencarkan program imunisasi kejar (catch-up campaign) di seluruh kecamatan. Program ini menyasar anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap, tanpa mempermasalahkan keterlambatan usia selama masih dalam rentang balita.

‎“Silakan masyarakat datang ke puskesmas atau melalui kader. Imunisasi kejar tetap bisa diberikan selama anak masih dalam usia sasaran,” ucapnya.

‎Untuk meningkatkan cakupan, Dinkes juga menggandeng aparat kewilayahan seperti kecamatan, kelurahan, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas dalam mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya imunisasi.

‎Selain itu, masyarakat diminta untuk mewaspadai gejala campak yang umumnya diawali dengan demam tinggi, kemudian diikuti munculnya ruam pada kulit. Gejala lain yang kerap menyertai antara lain batuk, pilek, dan mata merah.

‎Dinkes mengimbau orang tua untuk segera membawa anak ke fasilitas kesehatan saat mengalami demam, tanpa harus menunggu munculnya ruam. ‎Untuk mencegah penularan lebih luas, penderita yang diduga campak dianjurkan melakukan isolasi mandiri selama 14 hari serta menggunakan masker. Hal ini penting mengingat virus campak dapat bertahan di udara hingga dua jam.

‎“Virus campak bisa bertahan di udara hingga dua jam. Jadi penggunaan masker dan isolasi mandiri sangat penting untuk mencegah penularan,” katanya.

‎Dadan menegaskan, imunisasi merupakan perlindungan paling efektif terhadap campak. Jika cakupan imunisasi mencapai 95 persen, maka kekebalan kelompok (herd immunity) dapat terbentuk dan memberikan perlindungan bagi masyarakat secara luas.

‎“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk mengecek kembali status imunisasi anaknya. Jika belum lengkap, segera lengkapi. Ini penting untuk melindungi anak dan lingkungan sekitar,” tandasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....