Dua Anak Harimau Mati, Pemkot Bandung Perketat Biosekuriti Kebun Binatang

  • 28 Mar 2026 10:01 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Kebun Binatang Bandung menjadi sorotan serius Pemerintah Kota Bandung setelah kematian dua anak harimau berusia sekitar delapan bulan. Peristiwa ini mendorong evaluasi menyeluruh terhadap sistem kesehatan dan pengelolaan satwa di lembaga konservasi tersebut.

‎Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengungkapkan, hasil analisis menunjukkan bahwa kedua anak harimau tersebut mati akibat infeksi virus distemper, salah satu penyakit paling mematikan yang kerap menyerang satwa dari keluarga kucing, terutama yang masih berusia di bawah satu tahun.

‎Menurut Farhan, virus distemper memiliki tingkat fatalitas tinggi karena hingga kini belum tersedia pengobatan yang benar-benar efektif. Penanganan penyakit ini sangat bergantung pada daya tahan tubuh atau imunitas masing-masing hewan.

‎“Virus ini sangat berbahaya bagi bayi kucing. Penanganannya sulit karena obatnya belum tentu efektif, sehingga sangat bergantung pada imunitas,” ujar Farhan, Sabtu 28 Maret 2026.


‎Menanggapi kejadian tersebut, Pemerintah Kota Bandung langsung mengambil langkah strategis dengan memperkuat sistem biosekuriti di Kebun Binatang Bandung. Upaya ini dilakukan guna mencegah penyebaran penyakit serta menghindari terulangnya kasus serupa di masa mendatang.

‎Farhan menegaskan, pengamanan kesehatan satwa kini menjadi prioritas utama dalam pengelolaan kebun binatang. Pemerintah juga tengah menunggu laporan resmi tertulis terkait kondisi terkini dan kesiapan pengelolaan lembaga konservasi tersebut.

‎Laporan tersebut nantinya akan menjadi dasar dalam proses seleksi mitra pengelola berbadan hukum yang akan bekerja sama dalam pengelolaan kebun binatang. Rencana kerja sama ini diproyeksikan berlangsung dalam jangka panjang, yakni hingga 20 tahun ke depan.

‎“Kerja sama ini akan berlaku hingga 20 tahun ke depan, sehingga proses seleksinya harus dilakukan secara ketat dan profesional,” katanya.

‎Ia memastikan, proses seleksi tetap berjalan sesuai rencana tanpa hambatan. Bahkan, insiden kematian satwa ini dijadikan momentum evaluasi untuk meningkatkan standar pengelolaan, khususnya dalam aspek kesehatan dan biosekuriti.

‎Dalam penanganan kasus ini, Pemerintah Kota Bandung juga melibatkan berbagai pihak terkait, di antaranya BKSDA Jawa Barat, Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat, rumah sakit hewan, serta Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung.

‎Kolaborasi lintas sektor tersebut dinilai penting untuk memastikan penanganan kasus berjalan optimal sekaligus memperkuat sistem perlindungan satwa di masa depan.

‎Sementara itu, terkait penunjukan mitra pengelola baru, Farhan menyebut hingga saat ini belum ada pihak yang diumumkan secara resmi.

‎" Proses seleksi akan dilakukan secara terbuka dan transparan guna mendapatkan mitra terbaik yang mampu meningkatkan kualitas pengelolaan konservasi satwa di Kota Bandung," tandasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....