Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Panjang, Jawa Barat Diminta Siaga Dini

  • 25 Mar 2026 16:36 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi wilayah Jawa Barat akan menghadapi musim kemarau yang lebih panjang dan kering dibandingkan kondisi normal. Periode kemarau diperkirakan berlangsung mulai Maret hingga Juni 2026, dengan intensitas yang cenderung meningkat.

Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Teguh Rahayu, menjelaskan bahwa prediksi ini didasarkan pada analisis dinamika atmosfer serta model iklim menggunakan periode normal 1991–2020. Hasil kajian menunjukkan bahwa musim kemarau tahun ini datang lebih awal dengan curah hujan yang berada di bawah normal di sebagian besar wilayah.

“Secara umum, Jawa Barat akan mengalami sifat hujan bawah normal. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026, dengan durasi mencapai 13 hingga 15 dasarian, bahkan berpotensi lebih panjang dari biasanya,” dalam rilis BKMG, Selasa 24 Maret 2026.

Data BMKG juga menunjukkan bahwa sekitar 56 persen wilayah Jawa Barat akan mulai memasuki musim kemarau pada Mei 2026. Namun, sejumlah daerah diperkirakan mengalami kemarau lebih awal, terutama sebagian wilayah Bekasi dan Karawang yang berpotensi mengalaminya sejak Maret.

Selanjutnya, kondisi kering diprediksi meluas ke wilayah Bekasi, Karawang, Purwakarta, Subang, Indramayu, hingga sebagian Cirebon pada bulan berikutnya. Sementara itu, wilayah seperti Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung Raya, Garut, Sumedang, Tasikmalaya, Pangandaran, Majalengka, Kuningan, Ciamis, hingga Banjar diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada periode Mei hingga Juni.

Menghadapi potensi kemarau panjang ini, BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk segera melakukan langkah antisipatif. Upaya tersebut meliputi pengelolaan sumber daya air secara optimal serta penyesuaian jadwal tanam di sektor pertanian.

Langkah mitigasi dinilai penting guna mengurangi risiko dampak yang ditimbulkan, seperti kekeringan, menurunnya pasokan air bersih, gangguan pada sistem irigasi, hingga meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....