Anak Harimau Benggala Mati, Satu Lagi Masih Menjalani Perawatan Intensif
- 25 Mar 2026 15:27 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung – Kabar duka datang dari Kebun Binatang Bandung. Seekor anak harimau Benggala bernama Hara yang berusia delapan bulan dilaporkan mati setelah terinfeksi virus yang menyerang keluarga kucing besar.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menjelaskan bahwa kematian Hara bukan disebabkan oleh kelalaian perawatan, melainkan akibat infeksi virus yang sudah dibawa sejak lahir dari induknya.
“Induknya menjadi carrier virus. Ini adalah virus khas keluarga kucing besar. Kedua anaknya sudah terinfeksi sejak lahir. Yang satu tidak terselamatkan, sementara satu lagi masih terus kami upayakan,” ujar Farhan saat ditemui di Terminal Leuwipanjang, Rabu 25 Maret 2026.
Ia menegaskan bahwa kondisi ini telah ditangani dengan prosedur yang tepat, termasuk pemisahan antara induk dan anak untuk mencegah risiko penularan lebih lanjut. Induk harimau dilaporkan dalam kondisi sehat, sementara satu anak lainnya masih bertahan meski sempat mengalami kondisi lemah sejak lahir.
Menurut Farhan, virus yang menyerang tersebut adalah Feline Panleukopenia, penyakit yang dikenal berbahaya bagi satwa felin seperti harimau dan kucing. Virus ini dapat menyebabkan penurunan drastis sel darah putih sehingga melemahkan sistem imun hewan.
“Ini bukan karena tidak terurus. Virus ini memang sulit diselamatkan jika sudah menginfeksi sejak dini. Induknya sudah kebal, tetapi anaknya sangat rentan,” katanya.
Pemerintah Kota Bandung memastikan akan melakukan evaluasi menyeluruh atas kejadian ini. Langkah tersebut melibatkan koordinasi dengan pemerintah pusat dan provinsi guna memastikan standar kesejahteraan satwa tetap terjaga.
“Ini menjadi tanggung jawab bersama. Kami pastikan kejadian ini tidak mengganggu kesejahteraan hewan lainnya di kebun binatang,” tambahnya.
Sementara itu, kondisi terbaru anak harimau yang masih hidup dilaporkan mulai menunjukkan perkembangan positif. Berdasarkan pemantauan terakhir pukul 14.19 WIB, gejala seperti diare dan muntah telah berangsur hilang, serta aktivitas hewan mulai meningkat.
Tim dokter hewan yang terdiri dari lima orang terus melakukan penanganan intensif, meliputi pemberian antibiotik, antiemetik, cairan rehidrasi oral, suplemen imun, hingga antivirus. Hewan tersebut juga telah melewati fase kritis selama 72 jam, yang menjadi penentu dalam proses pemulihan.
“Makan sudah mulai masuk dengan bantuan keeper, dan secara bertahap akan ditingkatkan,” jelasnya.
Farhan juga mengaku telah melakukan pengecekan ke sejumlah taman marga satwa lainnya sebagai langkah pembelajaran dan pencegahan. Ia menilai virus ini menjadi salah satu ancaman serius yang harus diwaspadai dalam pengelolaan satwa liar di kebun binatang.
“Saya sangat prihatin dan sedih. Ini harus menjadi perhatian bersama agar kejadian serupa tidak terulang,” tandasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....