Ribuan Jemaah Muhammadiyah Salat Idul Fitri di Lapangan Rajawali Cimahi
- 20 Mar 2026 14:44 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Cimahi - Sekitar 3.000 jemaah Muhammadiyah memadati Lapangan Rajawali, Jalan Gatot Subroto, Kota Cimahi, untuk melaksanakan Salat Idul Fitri 1447 Hijriah pada Jumat, 20 Maret 2026.
Jumlah jemaah yang besar ini menjadi sorotan, mengingat pelaksanaan ibadah tetap berlangsung khidmat meski kondisi lapangan masih basah akibat hujan pada malam sebelumnya.
Sejak pagi hari, jemaah mulai berdatangan dengan membawa alas masing-masing untuk mengantisipasi tanah dan rumput yang lembap. Di lokasi, sejumlah pedagang alas plastik turut meramaikan suasana dan banyak diburu jemaah agar dapat beribadah dengan nyaman tanpa terganggu kondisi lapangan.
Salat Idul Fitri dimulai tepat pukul 07.00 WIB dan dipimpin oleh Imam Ridwan Hafidz. Setelah pelaksanaan salat, kegiatan dilanjutkan dengan khutbah yang disampaikan oleh Prof. Wahyu Srigutomo, Wakil Ketua Muhammadiyah Jawa Barat.
Dalam khutbahnya, ia menyoroti makna Ramadan dan Idul Fitri di tengah dinamika global, termasuk konflik di Timur Tengah serta tantangan ekonomi yang dihadapi masyarakat.
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Cimahi, Ir. Syamsurijal, didampingi Ketua Pelaksana M. Ersyad Muttaqien, menyampaikan bahwa jemaah yang hadir tidak hanya berasal dari Kota Cimahi, tetapi juga dari daerah lain, termasuk para pemudik yang memanfaatkan momen Lebaran untuk beribadah bersama keluarga.
“Penetapan 1 Syawal oleh Muhammadiyah mengacu pada metode Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang digunakan Majelis Tarjih dan Tajdid. Penentuan tersebut berbeda dengan keputusan pemerintah yang menetapkan Idul Fitri jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026, melalui sidang isbat,” ujarnya.
Meski demikian, pihaknya menegaskan bahwa perbedaan penetapan hari raya merupakan hal yang lumrah dalam praktik keagamaan.
Menurutnya, perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah tidak menjadi penghalang untuk tetap menjaga persatuan dan saling menghormati antarumat Islam.
“Perbedaan ini adalah bagian dari dinamika ijtihad. Kami tetap menghormati saudara-saudara yang mengikuti ketetapan pemerintah maupun organisasi lain. Yang terpenting adalah menjaga kebersamaan dan persatuan,” kata Syamsurijal.
Muhammadiyah sendiri terus mendorong penerapan Kalender Hijriah Global Tunggal sebagai upaya penyatuan sistem penanggalan Islam secara internasional, meski proses penyamaan persepsi di internal organisasi disebut membutuhkan waktu yang tidak singkat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....