Kemenko IPK Tinjau Lahan Buruan Sae di Batununggal Bandung
- 04 Mar 2026 14:53 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung – Kota Bandung berpeluang menambah ruang terbuka hijau (RTH) sekaligus mengembangkan kawasan urban farming terpadu berbasis pemberdayaan masyarakat. Peluang tersebut mengemuka saat jajaran Kementerian Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Kemenko IPK) meninjau langsung lahan milik warga di Kecamatan Batununggal, Rabu 4 Maret 2026.
Kunjungan itu dihadiri Asisten Deputi Penyelenggara Tata Ruang dan Penataan Agraria Kemenko IPK, Djuang Fadjar Sodikin, bersama Wali Kota Bandung Muhammad Farhan. Rombongan meninjau lahan yang selama ini dikelola masyarakat menjadi kawasan urban farming atau dikenal dengan konsep Buruan Sae.
Camat Batununggal, Latief, menjelaskan awalnya lokasi tersebut direncanakan sebagai tempat pengelolaan sampah terpadu. Namun setelah melihat langsung kondisi dan potensinya, pihak kementerian menilai lahan tersebut lebih strategis jika dikembangkan sebagai ruang terbuka hijau produktif.
“Awalnya Pak Wali menyampaikan rencana pengelolaan sampah terpadu di sini. Namun dari Kementerian melihat potensi lahan ini untuk dijadikan RTH,” ujar Latief di sela-sela kegiatan.
Menurutnya, Wali Kota Bandung menunjukkan ketertarikan terhadap potensi pengembangan kawasan tersebut. Ke depan, opsi pembelian lahan oleh pemerintah terbuka, baik melalui kementerian terkait maupun Pemerintah Kota Bandung.
“Kami masih menunggu koordinasi lanjutan. Apakah nanti lahannya dibeli atau seperti apa, itu akan dibahas lebih lanjut,” jelasnya.
Lahan yang sebelumnya merupakan tanah adat milik warga setempat itu dulunya tidak terkelola dan cenderung terbengkalai. Melalui koordinasi antara pemerintah kecamatan dan masyarakat, warga kemudian memperkenankan lahan tersebut dimanfaatkan sebagai Buruan Sae.
Kini kawasan tersebut berkembang menjadi sentra urban farming yang produktif. Berbagai aktivitas dilakukan, mulai dari peternakan ayam, budidaya ikan dalam kolam, hingga penanaman sayuran seperti pakcoy dan komoditas hortikultura lainnya.
Tak hanya menjadi ruang hijau, hasil pertanian dan peternakan di lokasi itu juga dimanfaatkan untuk mendukung program penanganan stunting di wilayah Batununggal. Produk yang dihasilkan dikelola oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dan digunakan sebagai bahan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita.
“Dengan adanya Buruan Sae ini, hasilnya langsung dirasakan masyarakat. Dikelola warga, dimanfaatkan untuk kebutuhan gizi anak-anak,” kata Latief.
Apabila rencana pengembangan tersebut terealisasi, lahan di Batununggal berpotensi menjadi model RTH produktif di Kota Bandung. Selain berfungsi sebagai paru-paru kota yang menghasilkan udara lebih bersih dan memperbaiki kualitas lingkungan, kawasan itu juga tetap mempertahankan konsep urban farming berbasis pemberdayaan masyarakat.
Konsep ini dinilai sejalan dengan kebutuhan Kota Bandung dalam memperluas proporsi ruang terbuka hijau, sekaligus memperkuat ketahanan pangan lokal dan meningkatkan kesejahteraan warga melalui aktivitas ekonomi produktif.
Pemerintah daerah dan kementerian terkait masih akan melakukan pembahasan teknis dan administratif terkait status lahan serta skema pengembangannya.
“Kita tunggu koordinasi lanjutan antara Pemkot dan Kementerian. Harapannya, lahan ini bisa memberikan manfaat jangka panjang, baik secara lingkungan maupun sosial ekonomi,” tandasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....