Komitmen Farhan Fokus pada Fondasi dan Tata Kelola
- 04 Mar 2026 13:59 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung – Genap satu tahun mengemban amanah sebagai Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menegaskan komitmennya untuk terus menata fondasi pembangunan Kota Bandung dengan menitikberatkan pada kualitas hidup warga.
Menurut Farhan, satu tahun bukanlah waktu yang panjang untuk menuntaskan seluruh persoalan kota yang kompleks. Namun, periode tersebut cukup untuk belajar, mendengar aspirasi masyarakat, serta menentukan arah kebijakan yang lebih terukur.
“Bandung adalah kota dengan energi besar, kreativitas tinggi, sekaligus ekspektasi publik yang tidak pernah kecil. Dalam setahun terakhir, saya belajar bahwa memimpin Bandung tidak cukup dengan gagasan besar atau program yang terdengar menarik,” ujar Farhan, Rabu 4 Maret 2026.
Farhan mengakui, selama satu tahun terakhir, dirinya menerima beragam harapan, kritik, hingga kekecewaan warga, baik yang disampaikan secara langsung maupun melalui ruang digital. Baginya, hal tersebut merupakan bagian dari dinamika demokrasi kota yang sehat.
Sejak awal masa kepemimpinan, Pemerintah Kota Bandung berkomitmen menjaga ruang partisipasi publik tetap terbuka. Kritik, menurutnya, bukan ancaman, melainkan pengingat agar pemerintah benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari warga.
“Kritik yang disampaikan warga hampir selalu berangkat dari pengalaman nyata dalam keseharian mereka. Karena itu, saya memilih untuk tidak memandang kritik sebagai ancaman, melainkan sebagai pengingat bahwa kehadiran pemerintah harus benar-benar terasa,” tegasnya.
Farhan menilai, hal-hal yang paling dirasakan masyarakat justru bukan program besar yang bersifat seremonial, melainkan layanan dasar yang hadir setiap hari.
Mulai dari pengelolaan sampah yang lebih tertata, perbaikan infrastruktur jalan, penataan parkir yang lebih manusiawi, ruang publik yang ramah, hingga pelayanan publik yang responsif menjadi perhatian utama dalam satu tahun terakhir.
Ia menegaskan, wajah pemerintahan yang sesungguhnya tercermin dari isu-isu keseharian tersebut, meski tidak selalu menjadi berita utama.
“Bandung harus nyaman dihuni sebelum indah dipromosikan. Kota ini tidak boleh hanya ramah bagi pengunjung, tetapi juga adil bagi warganya sendiri,” katanya.
Farhan juga menyoroti julukan Bandung sebagai kota event. Ia mengakui, penyelenggaraan berbagai kegiatan mampu menggerakkan ekonomi, memberi ruang ekspresi budaya, dan menarik wisatawan. Namun di sisi lain, muncul pula kritik terkait kemacetan, sampah pasca-acara, hingga manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Ke depan, setiap event di Kota Bandung akan diwajibkan memenuhi standar yang lebih jelas dan terukur. Tidak sekadar ramai, tetapi juga berdampak nyata.
“Dampak ekonomi harus terukur, keterlibatan UMKM harus nyata, dan tanggung jawab lingkungan harus menjadi bagian dari perencanaan. Event tidak boleh berdiri sendiri, tetapi harus terhubung dengan kualitas hidup warga,” jelasnya.
Dalam perjalanannya, kepemimpinan satu tahun ini juga diwarnai berbagai dinamika yang menguji aspek etika dan integritas pemerintahan. Farhan menegaskan, pemerintah tidak boleh defensif, namun juga tidak gegabah dalam merespons setiap persoalan.
Prinsip yang dipegang, lanjutnya, adalah menghormati proses hukum, menjaga akuntabilitas institusi, serta memastikan pelayanan publik tetap berjalan tanpa gangguan.
Ia juga menekankan pentingnya transparansi dalam pengelolaan anggaran daerah dan pengambilan keputusan publik. Di era digital, kepercayaan masyarakat dibangun melalui keterbukaan data, penjelasan yang jujur, serta kesiapan untuk menerima koreksi.
“Integritas pemerintahan tidak ditentukan oleh absennya masalah, melainkan oleh cara kita bersikap ketika masalah itu muncul,” ucapnya.
Farhan memilih kata “merawat” untuk menggambarkan arah kepemimpinannya. Baginya, kota bukan sekadar kumpulan proyek, melainkan ruang hidup bersama yang harus dijaga secara konsisten.
Merawat berarti memperhatikan hal-hal kecil, mendengar kelompok yang lemah, serta memperbaiki yang rusak secara bertahap namun berkelanjutan. Tahun pertama disebutnya sebagai fase belajar dan menata fondasi.
Tahun-tahun berikutnya akan menjadi fase percepatan pembangunan dengan fokus pada layanan publik yang manusiawi, lingkungan yang lestari, ekonomi yang inklusif, serta tata kelola yang bersih.
Farhan pun mengajak seluruh warga untuk terus terlibat dalam pembangunan kota, tidak hanya sebagai penerima kebijakan, tetapi juga sebagai pengawas dan mitra pemerintah.
“Satu tahun ini bukan tentang klaim keberhasilan, melainkan tentang tanggung jawab untuk terus belajar. Bandung yang kita cintai bukan hanya warisan, tetapi titipan bagi generasi berikutnya,” tandasnya.