Badan Geologi Ungkap Struktur Sesar Lembang, Patahan 29 KM
- 27 Feb 2026 22:13 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkap temuan terbaru terkait struktur Sesar Lembang yang selama ini dikenal sebagai sumber potensi gempa di Bandung Raya. Patahan sepanjang 29 kilometer tersebut terbagi menjadi tiga segmen aktif dengan karakter geologi dan tingkat risiko berbeda.
Penyelidik Bumi Ahli Madya Badan Geologi, Sukahar Eka Adi Saputra, menegaskan Sesar Lembang merupakan patahan aktif yang memiliki keterkaitan erat dengan sistem vulkanik di kawasan Bandung.
“Segmentasi Sesar Lembang jelas, dan memiliki hubungan erat dengan sistem vulkanik di wilayah Bandung,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima RRI, Jumat 27 Februari 2026.
Potensi Gempa Besar
Arah tegasan dominan sesar membentang dari timur laut ke barat daya. Jika seluruh segmen bergerak bersamaan, potensi gempa maksimum diperkirakan mencapai magnitudo 6,5 hingga 7. Kajian paleoseismologi menunjukkan laju pergeseran sesar 1,95–3,45 milimeter per tahun dengan periode ulang gempa 170–670 tahun. Indikasi gempa besar pernah terjadi pada abad ke-15.
Karakter Tiga Segmen
- Segmen Barat: membentang dari Sungai Cimeta hingga Ngamprah dan Cibaligo. Meski permukaan relatif stabil, data geofisika menunjukkan aktivitas sesar masih berlangsung di kedalaman.
- Segmen Tengah: dari Maribaya hingga Gunung Batu. Struktur relatif tegak hingga kedalaman 2.000 meter, dengan indikasi aktivitas sesar muda.
- Segmen Timur: kawasan Gunung Batu hingga Tebing Keraton. Ditemukan jejak pergeseran sungai, tebing patahan, dan cermin sesar yang menandakan aktivitas geologi signifikan.
Penyelidik Bumi Ahli Muda, Hidayat, menambahkan pemindaian geofisika menemukan offset lapisan batuan yang konsisten dengan distribusi gempa mikro. “Segmen tengah dan timur menunjukkan aktivitas sesar muda yang masih berlangsung,” jelasnya.
Pentingnya Mitigasi
Badan Geologi menegaskan segmentasi ini penting untuk menentukan zonasi risiko gempa secara presisi, termasuk dalam perencanaan infrastruktur dan tata ruang wilayah. Penyelidik Bumi Utama, Supartoyo, menekankan kesiapan konstruksi menjadi faktor penentu dampak gempa.
“Gempa tidak bisa dicegah, tapi risikonya dapat ditekan jika standar konstruksi diterapkan konsisten,” ujarnya.
Data Badan Geologi mencatat gempa merusak di Indonesia terjadi 5–41 kali per tahun dalam periode 2000–2025. Kerugian besar pernah terjadi, seperti gempa Cianjur 2022 yang menimbulkan kerugian hingga Rp4 triliun.
Dengan karakter kompleks dan aktivitas yang masih berlangsung, Sesar Lembang menjadi fokus utama mitigasi bencana di Jawa Barat. Pemahaman detail setiap segmen diharapkan membantu pemerintah dan masyarakat mengurangi risiko korban jiwa serta kerugian ekonomi di masa depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....