Seleksi Dirut Perumda Tirta Wening, 96 Kandidat Berebut Kursi
- 23 Feb 2026 11:25 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung – Sebanyak 96 orang mendaftar dan mengikuti proses seleksi Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Wening Kota Bandung. Jumlah tersebut dinilai cukup besar dan menunjukkan tingginya minat serta perhatian publik terhadap pengelolaan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sektor air di Kota Kembang.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengungkapkan, selain posisi direktur utama, seleksi untuk Dewan Pengawas (Dewas) juga diikuti sekitar 60 peserta.
“Total yang daftar untuk dirut ada 96. Banyak. Untuk dewas itu ada sekitar 60-an. Seleksinya masih belum selesai. Ini seleksinya serius pisan ya. Sampai melibatkan lembaga psikologi, tes kesehatan fisik. Jadi saya belum melihat hasil finalnya. Baru kandidat-kandidatnya saja,” ujar Farhan, Senin 23 Februari 2026.
Farhan menegaskan, proses seleksi dilakukan secara profesional dan transparan dengan melibatkan sejumlah lembaga independen dan institusi kredibel. Di antaranya Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) untuk pemeriksaan kesehatan, lembaga psikologi, serta akademisi dari Universitas Padjadjaran.
Tak hanya itu, seleksi juga melibatkan Badan Kepegawaian Negara (BKN) serta Kementerian Dalam Negeri, mengingat tata kelola BUMD saat ini berada di bawah regulasi dan pengawasan ketat pemerintah pusat.
“Nanti hasil kerucutnya saya tunggu, karena ini kan melibatkan banyak pihak. RSHS terlibat, lembaga psikologi, Unpad terlibat. Terus juga BKN terlibat, Kementerian Dalam Negeri pun terlibat. Karena BUMD sekarang ada di bawah aturan ketat dari Kemendagri juga,” jelasnya.
Farhan menekankan, sosok direktur utama yang dibutuhkan bukan hanya sekadar manajer administratif, tetapi figur inovatif yang mampu melakukan terobosan. Saat ini, cakupan layanan Perumda Tirta Wening baru menjangkau sekitar 38 persen warga Kota Bandung.
“Karena gini, kita baru bisa melayani meng-cover 38 persen saja. Kita harus bisa cari terobosan untuk bisa meng-cover minimal 50 persen,” tegasnya.
Ia menilai, peningkatan cakupan layanan air bersih menjadi pekerjaan rumah besar yang harus segera dituntaskan. Apalagi kebutuhan air bersih masyarakat terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan pembangunan kawasan permukiman baru.
Selain memperluas layanan air bersih, Farhan juga menyoroti pentingnya pengelolaan air limbah secara terintegrasi. Menurutnya, tantangan ke depan bukan hanya soal distribusi air bersih, tetapi juga pengelolaan air kotor yang terbagi dalam dua kategori utama.
Pertama, limbah rumah tangga dan limbah industri. Kedua, pemanfaatan hasil olahan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) menjadi air bersih tidak layak minum yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan industri.
“Air kotor itu ada dua jenis. Limbah rumah tangga dan limbah industri. Yang kedua adalah pemanfaatan air hasil olahan IPAL menjadi air bersih tidak layak minum yang akan digunakan oleh industri,” paparnya.
Model bisnis tersebut dinilai dapat menjadi basis penguatan Perumda Tirta Wening, termasuk pengembangan fasilitas penunjang seperti laboratorium uji kualitas air.
“Lab uji cobanya juga bagus di PDAM, salah satu yang terbaik di Indonesia,” tandasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....