Pertunjukan Tahunan Indrawati, Bukti Konsistensi Rawat Tari Sunda

  • 31 Jan 2026 13:11 WIB
  •  Bandung

Baca

RRI.CO.ID, Bandung – Konsistensi dan eksistensi Maestro Tari Sunda Tradisional, Indrawati Lukman (82), dalam melestarikan seni tari patut mendapat apresiasi. Selama 58 tahun berkarya dan mengabdikan diri pada seni tari Sunda, pendiri Sanggar Tari Indrawati (STI) ini secara rutin menggelar pertunjukan tari setiap tahun sebagai bentuk komitmennya menjaga warisan budaya daerah.

Komitmen tersebut kembali diwujudkan melalui pertunjukan bertajuk Karsa Rekacipta Indrawati Lukman yang akan digelar di Gedung Asia Afrika pada 14 Februari 2026. Dalam pementasan ini, STI menampilkan rangkaian tari kreasi khas dengan konsep medley tanpa jeda, sehingga penonton, khususnya masyarakat awam, dapat menikmati pertunjukan secara utuh tanpa merasa jenuh.

Selain tari kreasi, STI juga menyuguhkan fragmen drama tari yang diangkat dari Serat Menak, khususnya kisah Menak Cina yang menampilkan tokoh Dewi Adaninggar. Kisah tragis tentang cinta, kecemburuan, hingga peperangan ini diolah dengan perpaduan tari, teater cahaya, multimedia dan narasi dalang.

“Apresiasi masyarakat sendiri masih kurang. Karena itu saya selalu berusaha membuat kemasan baru yang menarik generasi muda, tanpa meninggalkan dasar klasiknya,” jelasnya, di Bandung, Jumat 30 Januari 2026.

“Orang awam itu yang penting visual dulu, kalau terlalu lama mereka bosan. Jadi saya kemas enam tarian langsung tanpa jeda sekitar 20 menit, lalu diselipkan fragmen drama tari yang ada cerita cina nya. kebetulan Februari perayaan imlek," imbuh Indrawati.

Sutradara drama tari tersebut, Irwan Jamal, menjelaskan bahwa karya ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan bentuk revitalisasi cerita klasik yang nyaris dilupakan.

“Ini kisah cinta tragis Putri Adaninggar yang berangkat dari hikayat Amir Hamzah, diterjemahkan ke dalam Serat Menak oleh pujangga Keraton Surakarta. Kami padukan unsur tari, visual teater, multimedia, dan narasi dalang agar relevan dengan penonton masa kini,” kata Irwan.

Lanjut Irwan, pertunjukan tersebut sebagai bukti maestro tari tradisional sunda Idrawati Lukman tetap memiliki enerjik dan wawasan dalam mengkombinasikan tarian tradisional dengan pertunjukan kekinian.

"Nanti Indrawati akan juga tampil disela pertunjukan. Pertunjukan tahun ini akan sangat berbeda dari sebelumnya, sangat menarik untuk disaksikan," bebernya.

“Selama 58 tahun kami rutin menggelar pertunjukan setiap tahun. Tapi tidak pernah ada bantuan dari pemerintah daerah untuk pelestarian tari Sunda,” ujar Indrawati Lukman saat ditemui usai latihan di sanggarnya.

Namun, selama 58 tahun mengabdikan untuk menjaga seni tari Sunda, ia mengaku tidak pernah mendapat dukungan nyata dari pemerintah dalam menjaga warisan budaya tersebut

Ia menyebut, bertahannya STI hingga hari ini lebih karena komitmen pribadi dan dukungan keluarga, terutama almarhum suaminya, Lukman, yang sejak awal mendampingi perjuangannya di dunia seni.

“Kalau bukan karena dukungan suami saya dulu, mungkin STI tidak akan bertahan sampai sekarang,” katanya.

Indrawati menilai perhatian masyarakat Jawa Barat terhadap seni tari tradisional juga terus menurun, sementara pemerintah dinilainya belum hadir sebagai penopang utama kebudayaan lokal.

Meski konsisten melahirkan karya dan menggelar pertunjukan selama puluhan tahun, STI tetap berjalan secara mandiri. Indrawati menegaskan tidak ada sokongan dana pemerintah, baik untuk produksi maupun pembinaan generasi muda.

“Kami bertahan dengan kemampuan sendiri. Padahal ini warisan budaya Jawa Barat,” tegasnya.

Fakta bahwa sebuah sanggar tari mampu bertahan hampir enam dekade tanpa bantuan negara menjadi ironi di tengah berbagai program kebudayaan yang kerap diklaim pemerintah. Indrawati Lukman menjadi simbol perlawanan sunyi terhadap abainya negara dalam menjaga seni tradisional.

Di tengah usia senjanya, ia masih memikul tanggung jawab besar melestarikan tari Sunda, bukan karena dukungan sistem, melainkan karena kecintaan mendalam pada budaya.

“Saya hanya ingin seni tari Sunda tetap hidup. Itu saja,” tutupnya.

Selama 58 tahun Indrawati Lukman mempertahankan seni tari Sunda tanpa satu pun dukungan pemerintah daerah. Di usia 82 tahun, maestro tari ini terus berjuang melestarikan budaya yang kian terpinggirkan.

Indrawati Lukman menghidupkan tari kreasi Sunda yang ia warisi dari gurunya, R. Tjetje Somantri. Puluhan karya lahir dari proses kreatif panjang, menafsir ulang tari klasik menjadi bentuk yang relevan tanpa kehilangan akar budaya

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....