Soal Longsor KBB, Begini Kata Dosen SPIG UPI
- 30 Jan 2026 21:36 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Dosen Bidang Ahli Geografi Fisik dengan keahlian bidang kompetensi Mitigasi Bencana, di Prodi Survey Pemetaan dan Informasi Geografis (SPIG), Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Hendro Murtianto, mengatakan, bencana longsor yang melanda kawasan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), merupakan fenomena alam yang dipicu terutama oleh karakteristik fisik wilayah.
Namun, dampaknya berubah menjadi bencana besar karena bersinggungan langsung dengan aktivitasdan permukiman manusia di zona rawan. Secara geomorfologis kawasan Gunung Burangrang merupakan bagian dari bentang alam gunung api purba Gunung Sunda, dengan relief terjal dan kemiringan lerengyang curam. Kondisi ini secara alami menjadikan wilayah tersebut memiliki potensi longsor yang tinggi.
“Kawasan Gunung Burangrang sampai dengan Cisarua memilikikarakter pelapukan batuan vulkanik stadium tua dengan faktorkelerengan yang curam, kondisi tanah yang relative tebal, dan curah hujan yang tinggi. Secara alamiah, potensi longsor di wilayah dengan karakteristik ini memang besar,” kata Hendro, Jumat, 30 Januari 2026.
Hendro menegaskan, longsor yang terjadi di kawasan Gunung Burangrang dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal meliputi kemiringan lereng, curah hujan yang tinggi dan berlangsung terus-menerus, relief pola pengaliran air dari hulu, dan jenis penggunaan lahannya.
Sementara faktor internal berkaitan dengan kondisi geologi lapisan batuan, ketebalan tanah hasil pelapukan vulkanik, serta keberadaan bidang gelincir di bawah permukaan tanah.
Ketika air hujan meresap dan terakumulasi di atas lapisanimpermeabel yang tidak tembus air, maka gaya gesek tanah dan material lapukan batuan menurun drastis sehingga massa tanah mudah meluruh ke bawah." Curah hujan yang tinggi secara terus-menerus membuat bidanggelincir menjadi licin dan tidak stabil,” ujarnya.
Ia menekankan, alih fungsi lahan memang berperan, tetapi bukan merupakan faktor dominan dalam kasus longsorCisarua, karena titik awal longsoran (mahkota longsor) berada di bagian atas Gunung Burangrang, bukan di daerah lereng kaki.
Longsor Tidak Selalu Jadi Bencana
Hendro menjelaskan bahwa longsor sebagai fenomena alamdapat terjadi di mana saja, termasuk di kawasan hutan yang tidak berpenghuni. Longsor baru disebut bencana ketika menimbulkan dampak langsung terhadap kehidupan manusia, seperti korban jiwa, kehilangan harta benda, kerusakan rumah, dan mata pencaharian.
“Fenomena longsor itu alamiah. Yang menjadi masalah adalahketika longsor tersebut berdampak pada kehidupan manusia,” tegasnya.
Baca Juga: iPAGAR Indonesia Salurkan Bantuan Kepada Korban Banjir Pantura
Menurut Hendro, secara ilmiah zona rawan longsor sangat bisa di identifikasi melalui survei karakteristik biogeofisik, dan pemetaan kebencanaan berbasis data geospasial dengan Teknik Penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG).
Bahkan, pemetaan kebencanaan dapat dilakukan dengan berbagai skala sebagai dasar penting dalam perencanaan tata ruang wilayah dan penentuan kebijakan.
Ia mengungkapkan, mahasiswa Program Studi SurveiPemetaan dan Informasi Geografis SPIG UPI telah bekerja samadengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)Kabupaten Bandung Barat dalam penyusunan peta potensi multi bencana, termasuk longsor.
“Pemetaan itu adalah dasar kebijakan. Dari sana bisa ditentukanwilayah mana yang aman untuk permukiman dan mana yang seharusnya dibatasi,” katanya.
SIG, lanjut Hendro, memungkinkan identifikasi zona bahaya, jalur longsor, jalur evakuasi, lokasi pengungsian, hinggaprioritas penanganan wilayah pada zona kepadatan penduduk tinggi.
Hendro menekankan bahwa penanganan bencana tidak boleh berhenti pada fase tanggap darurat. Mitigasi harus dilakukan secara komprehensif, mencakup tahap pra-bencana, saat bencana, dan pasca-bencana.
Hendro mengingatkan, bencana longsor Cisarua tidak dapat disederhanakan sebagai kesalahan satu pihak. Diperlukan kajian ilmiah yang jujur dan komprehensif agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan." Jangan saling menyalahkan. Ini bencana. Yang terpenting adalah manajemen bencana yang baik agar risiko bencana di masa depan bisa dikurangi,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....