Makna “Ngaderes” dalam Tembang Sunda Cianjuran
- 21 Jan 2026 15:55 WIB
- Bandung
RRI.Co.ID, Bandung - Tembang Sunda Cianjuran adalah salah satu jenis kesenian yang ada di Jawa Barat, yang lahir di Cianjur. Lagu-Lagu yang telah dipelajari dihafalkan kembali dan memiliki istilah “Ngaderes”.
Tembang Sunda Cianjuran di tempat kelahirannya yaitu di Cianjur, pada mulanya dikenal dengan sebutan Tembang Pajajaran. Penamaan ini terjadi ketika R.A.A. Kusumaningrat menjadi Bupati Cianjur sejak tahun 1834 – 1864, dan penyebutan seni Tembang Pajajaran berganti menjadi seni Mamaos setelah Bupati Prawiradiredja II menggantikan ayahnya menjadi Bupati Cianjur.
Hal ini berkaitan dengan 3 (Tiga) Pilar Budaya Cianjur Jawa Barat yaitu Maos, Mamaos, dan Maenpo, yang mencakup aspek religius (mengaji), seni (tembang Sunda Cianjuran), dan bela diri (pencak silat). Tiga Pilar tersebut yang bersama-sama membentuk filosofi hidup masyarakat Cianjur yang religius, berbudaya, dan tangguh.
Dalam hal ini Mamaos yang mencakup aspek religius yaitu mengaji, dalam menghafal kembali lagu-lagu yang telah dipelajari diberi istilah Ngaderes. Seperti penamaan masyarakat Sunda dalam membaca Al-Qur’an, dikenal dengan Ngaderes.
Ngaderes lagu Tembang Sunda Cianjuran bisa dilakukan sendiri atau bersama-sama dengan panembang lainnya. Dalam pelaksanaan Ngaderes, biasanya satu Lagu dinyanyikan berulang-ilang secara bergantian oleh semua panembang.
Sampai saat ini, penyebutan mamaos terhadap kesenian ini masih kental di kalangan seniman Cianjur. Walaupun masyarakat pada umumnya lebih mengenal kesenian ini dengan sebutan Tembang Sunda Cianjuran.
Istilah Tembang Sunda Cianjuran mulai digunakan setelah diadakannya Seminar Tembang Sunda pada Tahun 1978 yang diikuti oleh tokoh, baik dari kalangan seniman, budayawan, maupun masyarakat. Ngaderes Tembang Sunda Cianjuran saat ini masih dilakukan di beberapa daerah, walaupun kesenian ini sudah mulai redup keberadaannya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....