Inggris Versus Argentina: Momen kontroversial dalam sejarah Piala Dunia 1998
- 31 Mei 2026 07:12 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Sejarah Piala Dunia dipenuhi pertandingan besar yang dikenang lintas generasi. Salah satu yang paling membekas terjadi pada babak 16 besar Piala Dunia 1998 di Prancis ketika Inggris dan Argentina kembali bertemu dalam duel sarat rivalitas, emosi, dan kontroversi.
Dilansir dari FIFA.com, pertemuan kedua negara pada 30 Juni 1998 di Stadion Geoffroy-Guichard, Saint-Étienne, bukan sekadar pertandingan sepak bola biasa. Rivalitas panjang antara Inggris dan Argentina telah berlangsung selama puluhan tahun, mulai dari kontroversi kartu merah Antonio Rattin pada Piala Dunia 1966 hingga gol "Tangan Tuhan" Diego Maradona pada Piala Dunia 1986.
Memasuki turnamen di Prancis, kedua negara datang dengan status sebagai kandidat juara. Argentina tampil impresif dengan menyapu bersih tiga laga fase grup tanpa kebobolan, sementara Inggris lolos sebagai runner-up grup setelah mengalahkan Kolombia pada pertandingan terakhir.
Pertandingan berlangsung panas sejak menit-menit awal. Argentina unggul lebih dahulu melalui penalti Gabriel Batistuta pada menit kelima setelah Diego Simeone dilanggar kiper Inggris David Seaman. Namun lima menit berselang, Alan Shearer menyamakan kedudukan melalui titik putih setelah Michael Owen dijatuhkan di kotak terlarang.
Laga kemudian menghadirkan salah satu gol terbaik dalam sejarah Piala Dunia. Pada menit ke-16, Owen yang saat itu baru berusia 18 tahun melakukan solo run luar biasa sebelum melepaskan tembakan yang gagal dihentikan kiper Argentina Carlos Roa. Gol tersebut membawa Inggris berbalik unggul 2-1.
Argentina tidak menyerah. Menjelang turun minum, Javier Zanetti mencetak gol penyama kedudukan melalui skema tendangan bebas cerdik yang mengejutkan pertahanan Inggris. Babak pertama pun berakhir dengan skor 2-2.
Momen yang kemudian menjadi titik balik pertandingan terjadi pada awal babak kedua. David Beckham yang sedang terjatuh terlihat menendang kaki Diego Simeone dari belakang. Wasit asal Denmark, Kim Milton Nielsen, tanpa ragu mengeluarkan kartu merah langsung untuk gelandang Manchester United tersebut.
Meski bermain dengan 10 pemain selama lebih dari satu babak, Inggris menunjukkan perlawanan luar biasa. Mereka mampu menahan gempuran Argentina hingga pertandingan berakhir dan dilanjutkan ke babak adu penalti.
Dalam drama tos-tosan, kedua tim saling mencetak gol hingga penendang terakhir Inggris, David Batty, gagal menaklukkan Carlos Roa. Kiper Argentina berhasil menepis tendangan Batty dan memastikan kemenangan Argentina dengan skor 4-3 dalam adu penalti.
Kekalahan tersebut meninggalkan luka mendalam bagi sepak bola Inggris. Beckham yang saat itu baru berusia 23 tahun menjadi sasaran kritik dan kemarahan publik. Banyak suporter Inggris menuding kartu merahnya sebagai penyebab utama kegagalan tim melaju ke perempat final.
Namun seiring berjalannya waktu, pandangan terhadap Beckham berubah. Ia berhasil bangkit dari tekanan besar, kembali menjadi kapten tim nasional Inggris, dan menjelma sebagai salah satu ikon sepak bola dunia.
Sementara itu, pertandingan Argentina melawan Inggris di Piala Dunia 1998 tetap dikenang sebagai salah satu laga paling dramatis dalam sejarah turnamen. Pertarungan yang menghadirkan gol-gol spektakuler, rivalitas klasik, kartu merah kontroversial, hingga adu penalti yang membuat jutaan penonton menahan napas hingga detik terakhir.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....