NPCI Jabar Perkuat Kompetensi Pelatih Melalui Workshop Program Latihan
- 31 Agt 2026 10:54 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - National Paralympic Committee of Indonesia (NPCI) Jawa Barat menggelar Workshop Penyusunan Program Latihan di Arion Suites Hotel, Jalan Otto Iskandar Dinata No. 16, Pasir Kaliki, Kota Bandung, Senin 31 Agustus 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kualitas pembinaan atlet disabilitas di Jawa Barat.
Workshop ini tidak hanya membahas penyusunan program latihan, tetapi juga diarahkan untuk meningkatkan kompetensi pelatih agar mampu menyusun pola pembinaan yang terukur, sistematis, dan sesuai dengan karakteristik masing-masing cabang olahraga.
Kepala Bidang Pembudayaan Olahraga Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Jawa Barat, sekaligus Plt. Kepala Bidang Sarana Prasarana dan Kesejahteraan, Aris Dwi Subiyantoro, S.Hut., M.Sc., mengatakan pihaknya memberikan dukungan terhadap berbagai program yang dijalankan NPCI Jawa Barat.
“Dispora dalam hal ini sangat mendukung apa yang dilakukan teman-teman NPCI dalam mengangkat derajat dan mencari bakat-bakat terbaik dari kaum disabilitas melalui olahraga,” kata Aris.

Menurutnya, pembinaan olahraga disabilitas memiliki ruang yang luas untuk dikembangkan, terutama karena terdapat berbagai ajang olahraga multi-event, mulai dari tingkat daerah hingga internasional.
“Kalau kegiatan multi-event cukup banyak. Ada Peparda, ada Peparpenas. Itulah yang kita dorong, baik tingkat provinsi, nasional maupun internasional,” ujarnya.
Aris menilai salah satu strategi penting untuk meningkatkan prestasi atlet disabilitas adalah memperbanyak kompetisi. Menurut dia, semakin banyak event yang diikuti, semakin besar pula kesempatan atlet untuk mendapatkan pengalaman sekaligus menemukan potensi baru.
“Yang harus kita lakukan adalah memperbanyak event. Tentunya nanti bekerja sama dengan NPCI dan mitra dalam penyelenggaraan event,” katanya.
Selain memperbanyak kompetisi, Aris menekankan pentingnya membangun budaya olahraga sejak dini. Menurutnya, pembinaan prestasi tidak akan berjalan maksimal apabila budaya berolahraga di kalangan masyarakat belum tumbuh dengan baik.
“Kalau saya di Pembudayaan Olahraga, yang kita bangun sebelum prestasi terbangun adalah budayanya dulu. Kita budayakan,” tuturnya.
Untuk menjaring atlet potensial, Dispora Jawa Barat bersama NPCI akan memperkuat penjaringan melalui sekolah luar biasa (SLB), mulai jenjang SD, SMP hingga SMA. Namun, potensi atlet tidak hanya berasal dari lingkungan pendidikan karena masih banyak penyandang disabilitas berbakat yang berada di luar sekolah.

“Kita akan bekerja sama dengan SLB, baik tingkat SD, SMP maupun SMA. Kita gali dari situ. Tapi banyak juga potensi atlet yang di luar sekolah, dan itu yang harus kita gali,” ucap Aris.
Ia menyebutkan, berdasarkan data yang diterimanya, terdapat sekitar 1.600 atlet disabilitas yang telah tercatat di Jawa Barat. Namun, jumlah tersebut dinilai masih berpotensi bertambah sehingga pendataan perlu terus diperkuat.
“Yang kita kuatkan adalah data. Setelah itu kita arahkan klasifikasi. Dari klasifikasi, kita tentukan sejak awal, ‘Oh, ini bagusnya di cabang olahraga apa’,” katanya.
Aris juga menyoroti kebutuhan pemerataan pelatih di seluruh kabupaten dan kota di Jawa Barat. Menurutnya, jumlah atlet yang cukup besar harus diimbangi dengan ketersediaan pelatih yang memadai, termasuk di daerah yang selama ini masih kekurangan tenaga pelatih.
“Tidak mungkin atletnya 100, pelatihnya cuma satu. Jumlah pelatih harus kita kuatkan untuk mendampingi atlet-atlet ini,” tegasnya.
Karena itu, Dispora Jawa Barat bersama NPCI akan melakukan pemetaan kebutuhan pelatih berdasarkan 17 cabang olahraga yang dipersiapkan. Pemerataan tersebut diharapkan dapat mengurangi kesenjangan pembinaan antara daerah yang memiliki banyak pelatih dengan daerah yang masih terbatas.
“Kita kuatkan data dari 17 cabor ini seperti apa, pemerataan pelatih dan jumlahnya. Itulah yang kita tingkatkan dalam program pelatihan sesuai cabor,” jelas Aris.
Ia menambahkan, aspek sertifikasi pelatih juga menjadi perhatian penting. Menurutnya, pelatih yang menangani atlet berprestasi idealnya memiliki kompetensi dan lisensi yang jelas sehingga program latihan dapat dipertanggungjawabkan secara profesional.
“Kalau pelatih bukan bersertifikasi, mau dibawa ke mana atlet kita? Harus bersertifikasi,” katanya.
Aris menyebutkan, kegiatan peningkatan kapasitas pelatih idealnya dilakukan minimal tiga kali dalam setahun. Program tersebut tidak berhenti pada pelatihan, tetapi juga harus dievaluasi berdasarkan hasil pertandingan, termasuk setelah pelaksanaan Pekan Paralimpik Daerah (Peparda).
“Idealnya minimal tiga kali dalam setahun. Kita latih dulu, kemudian setelah ada Peparda pelatihan itu dilihat untuk mengevaluasi,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Umum NPCI Jawa Barat, Andi Supriadi, mengatakan pihaknya bersama tim Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK) UPI Bandung tengah menyusun kurikulum dan program kerja terkait lisensi kepelatihan khusus NPCI.
“Kami dengan tim FPOK UPI Bandung sedang merancang kurikulum dan program kerja karena kami menjalankan amanat dari Peraturan Kemenpora, bahwasanya pelatih itu sekarang harus berdasarkan lisensi,” kata Andi.
Andi menargetkan program lisensi kepelatihan khusus NPCI mulai dibuka setelah pelaksanaan Peparda, sekitar Desember 2026 atau Januari 2027. Lisensi tersebut nantinya diharapkan menjadi standar baru dalam penentuan pelatih yang menangani atlet NPCI Jawa Barat, termasuk untuk program Pelatda jangka panjang menghadapi Peparnas di Nusa Tenggara Timur (NTT) atau Nusa Tenggara Barat (NTB).
“Target kami, beres Peparda akan mengadakan lisensi kepelatihan khusus NPCI. Sekarang tim FPOK UPI Bandung sedang merancang kurikulumnya dan insya Allah ini terbuka untuk seluruh Jawa Barat,” ungkapnya.
Menurut Andi, kebutuhan ideal untuk tahap awal berada pada kisaran tiga hingga empat pelatih untuk setiap cabang olahraga di tingkat Jawa Barat. Dengan 17 cabang olahraga, kebutuhan tersebut harus dipenuhi secara bertahap melalui rekrutmen dan proses sertifikasi yang terbuka bagi calon pelatih dari berbagai daerah.
“Untuk tingkat Jawa Barat dulu, idealnya tiga sampai empat pelatih per cabor. Nanti kita buka untuk seluruh Jawa Barat, siapa yang mau ikut kepelatihan untuk berlisensi menjadi pelatih NPCI,” katanya.
Workshop tersebut diikuti 54 peserta yang merupakan perwakilan dari kabupaten dan kota di Jawa Barat. Setiap daerah mengirimkan dua perwakilan untuk mengikuti kegiatan peningkatan kapasitas tersebut.
Andi menegaskan, penguatan lisensi kepelatihan menjadi prioritas utama sebelum NPCI Jawa Barat mengembangkan perangkat pertandingan khusus olahraga disabilitas. Menurutnya, peningkatan kualitas pelatih merupakan fondasi penting untuk memastikan program pembinaan atlet berjalan secara profesional dan berkelanjutan.
“Mudah-mudahan ke depan ada perangkat pertandingan juga. Tetapi target utama dan prioritas yang lebih dahulu adalah lisensi kepelatihan,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....