Penataran Fisik NPCI Jabar Perkuat Kualitas Pelatih Atlet Disabilitas
- 19 Agt 2026 15:17 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Penataran kondisi fisik yang digelar NPCI Jawa Barat menjadi bagian penting dalam meningkatkan pemahaman pelatih mengenai penyusunan program latihan bagi atlet disabilitas. Materi yang diberikan tidak hanya menekankan aspek teori, tetapi juga diarahkan agar dapat diterapkan dalam proses pembinaan atlet secara berkelanjutan.
Dosen Ilmu Keolahragaan, Finaldi Palgunadi, mengatakan materi yang disampaikannya secara khusus membahas kondisi fisik, terutama komponen kekuatan yang menjadi salah satu fondasi penting dalam meningkatkan performa atlet. Menurutnya, pemahaman mengenai kondisi fisik harus dimiliki pelatih agar program latihan dapat disusun sesuai kebutuhan atlet.
“Materi yang tadi saya sampaikan itu mengenai kondisi fisik kekuatan. Tujuannya bagaimana menjabarkan kondisi kekuatan untuk meningkatkan performance atlet,” kata Finaldi.di Hotel El Cavana,Jalan Pasirkaliki,Kota Bandung.Rabu 19 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, terdapat empat komponen utama kondisi fisik yang perlu mendapatkan perhatian dalam proses pembinaan olahraga. Keempat komponen tersebut meliputi fleksibilitas, kecepatan, kekuatan, dan daya tahan yang saling berkaitan dalam menunjang performa seorang atlet.
“Kalau kita ingin meningkatkan performance, terutama dari sisi fisik, ada empat komponen utama yang perlu diperkuat. Ada fleksibilitas, kecepatan, kekuatan, dan daya tahan,” ujarnya.

Menurut Finaldi, empat komponen tersebut tidak hanya berlaku bagi atlet pada umumnya. Atlet disabilitas juga membutuhkan pengembangan kondisi fisik secara terukur dengan memperhatikan karakteristik dan kebutuhan masing-masing cabang olahraga.
“Di luar atlet normal, atlet disabilitas pun perlu meningkatkan empat komponen tersebut. Itu yang tadi secara garis besar saya sampaikan,” tuturnya.
Melihat latar belakang peserta yang sebagian besar merupakan praktisi dan pelatih, Finaldi menilai mereka pada dasarnya sudah memiliki pemahaman mengenai prinsip dasar penyusunan program latihan. Bahkan, sebagian peserta disebut pernah mengikuti penataran serupa pada tahun-tahun sebelumnya.
“Dari beberapa pertanyaan, pesertanya banyak yang merupakan praktisi pelatih yang langsung terjun. Beberapa di antaranya juga sudah pernah mengikuti penataran pada tahun-tahun sebelumnya,” katanya.
Meski demikian, ia menilai peningkatan kapasitas pelatih tidak cukup dilakukan melalui satu kali kegiatan. Menurutnya, materi mengenai kondisi fisik perlu diberikan secara kontinu dan bertahap agar pemahaman pelatih semakin berkembang, sekaligus dapat mengikuti kebutuhan perkembangan olahraga.
“Menurut saya tetap harus terus-menerus. Harus ada pelatihan lanjutan berdasarkan level atau tingkat lisensi pelatih. Setiap tahun menurut saya tetap harus ada,” ungkap Finaldi.
Ia menambahkan, kegiatan penataran juga idealnya dilengkapi dengan proses evaluasi dan pemberian umpan balik. Pelatih tidak hanya menerima materi secara teori, tetapi juga perlu diuji kemampuannya dalam menyusun program latihan hingga periodisasi yang sesuai dengan karakteristik cabang olahraga.
“Harusnya ada feedback. Mereka bisa membuat program latihan atau minimal program periodisasi latihan. Dari situ kita bisa melihat kemampuan mereka dan bagaimana penerapannya di setiap cabang olahraga,” jelasnya.

Untuk tahap lanjutan, Finaldi menyebut materi yang diberikan dalam penataran tersebut kemungkinan akan diterapkan dalam pembahasan periodisasi latihan. Berdasarkan informasi yang diterimanya, akan ada pemaparan lanjutan pada 31 Agustus yang mengarah pada penerapan teori kondisi fisik ke dalam penyusunan program latihan.
“Kalau tidak salah, tanggal 31 ada pemaparan mengenai periodisasi. Jadi teori yang diberikan hari ini nantinya dimasukkan ke dalam periodisasi latihan dan kemungkinan praktiknya ada di sana,” katanya.
Finaldi berharap penataran yang dilakukan NPCI Jawa Barat dapat memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kualitas pembinaan atlet. Ia menilai keberhasilan prestasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan atlet, tetapi juga kualitas pelatih dan seluruh pemangku kepentingan yang mendampingi atlet dalam kesehariannya.
“Fondasi prestasi bukan hanya dari atlet, tetapi dari semua stakeholder, salah satunya pelatih yang memegang dan mendampingi atlet setiap hari,” tegasnya.
Karena itu, ia berharap peningkatan kapasitas pelatih melalui kegiatan penataran dapat terus dilakukan secara berkesinambungan. Dengan semakin baiknya pengetahuan dan kemampuan pelatih dalam merancang program latihan, Finaldi optimistis performa atlet NPCI Jawa Barat dapat terus meningkat dan mampu mempertahankan prestasi di berbagai ajang olahraga.
“Harapannya NPCI Jabar dengan melakukan penataran seperti ini bisa memberikan keilmuan yang dapat diterapkan kepada atlet masing-masing. Yang pasti, diharapkan performance NPCI Jabar semakin meningkat,” pungkas Finaldi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....