NPCI Jabar Tingkatkan Pemahaman Klasifikasi Olahraga Disabilitas

  • 13 Okt 2025 17:01 WIB
  •  Bandung

KBRN, Bandung: National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Jawa Barat menggelar Diklat dan Pelatihan Klasifikasi bagi para pengurus dan pelatih, sebagai upaya memperluas wawasan tentang pentingnya klasifikasi dalam olahraga disabilitas. Kegiatan berlangsung di Hotel Golden Flower, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Senin (13/10/2025), dengan menghadirkan DR. dr. Retno Setiani dari NPCI Pusat sebagai pemateri utama.

Dalam paparannya, dr. Retno menjelaskan bahwa tahun ini NPCI Pusat melakukan pembaruan dan peningkatan sistem klasifikasi atlet disabilitas. Perubahan tersebut akan berdampak pada kebutuhan tenaga klasifikator yang lebih banyak di seluruh Indonesia.

“Perubahan klasifikasi ini menuntut kami untuk terus melakukan pelatihan secara berkala. Namun, kegiatan hari ini bukan untuk melatih peserta menjadi klasifikator karena itu memerlukan kompetensi dan sertifikasi khusus. Tujuannya adalah memberikan pemahaman kepada pengurus dan pelatih bahwa klasifikasi memiliki ketentuan baku yang harus dipahami,” jelas dr. Retno.

Ia menambahkan, setiap cabang olahraga memiliki standar klasifikasi berbeda. Misalnya, pada cabang bulutangkis perbedaan panjang tungkai minimal yang diterima adalah tujuh sentimeter, sementara pada cabang renang bisa mencapai dua puluh sentimeter.


Baca juga:Klasifikasi Wujud Keadilan bagi Atlet Disabilitas Jabar

“Jadi, tidak semua kondisi disabilitas cocok untuk semua cabang olahraga. Karena itu, pemahaman tentang klasifikasi menjadi penting agar atlet ditempatkan sesuai dengan kondisi fisiknya,” ujarnya.

Lebih lanjut, dr. Retno menekankan pentingnya underlying health condition (UHC) atau kondisi kesehatan dasar sebagai syarat utama klasifikasi. Mulai tahun 2025, International Paralympic Committee (IPC) menegaskan bahwa UHC menjadi unsur penting dalam menentukan kelayakan atlet disabilitas.

“Tujuan utama klasifikasi adalah memastikan pertandingan berlangsung fair and equal—adil dan setara. Atlet tidak harus memiliki jenis disabilitas yang sama, namun harus berada pada level kemampuan yang seimbang di kelas yang sama,” tegas dr. Retno yang juga bertugas di RS Ortopedi Prof. Soeharso, Solo.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....