PPI ITB: El Nino Level Sangat Kuat Berpotensi Mundurkan Musim Hujan hingga Awal 2027
- 13 Agt 2026 17:01 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung — Pusat Perubahan Iklim (PPI) Institut Teknologi Bandung (ITB) mengingatkan fenomena El Nino 2026-2027 berpotensi berlangsung dengan level kuat hingga sangat kuat. Kondisi ini diperkirakan dapat memengaruhi pola musim hujan di Indonesia, termasuk menyebabkan keterlambatan awal musim hujan di Pulau Jawa.
Ketua Tim Pakar PPI ITB, Dr. Tri Wahyu Hadi, mengatakan awal musim hujan di Indonesia memiliki awal dan pola yang berbeda di setiap wilayahnya. Namun, untuk di Pulau Jawa pada umumnya musim hujan mulai terjadi pada November atau Desember, kondisi El Nino saat ini membuat musim hujan di Pulau Jawa berpotensi mundur hingga Januari 2027.
"Kalau dengan adanya El Nino kuat hingga sangat kuat, itu bisa mundur sampai awal Januari atau bahkan pertengahan Januari musim hujannya," ujar Tri Wahyu dalam dialog interaktif PPI ITB dengan tajuk 'El Nino Sangat Kuat 2026-2027 dan Potensi Dampaknya di Indonesia', yang berlangsung di Gedung PAU ITB, Kamis 13 Agustus 2026.
Menurutnya, keterlambatan musim hujan bisa berdampak langsung pada beberapa sektor, terutama pertanian. Petani yang biasanya mulai menanam pada November atau Desember harus menyesuaikan waktu tanam apabila musim hujan datang sedikit mundur di bulan Januari.
Perubahan waktu tanam tersebut berpotensi menurunkan produktivitas pertanian secara signifikan. Karena itu, kesiapan menghadapi El Nino perlu dilakukan sejak dini, terutama untuk mengantisipasi dampak terhadap produksi pangan dan ketersediaan air.
"Sekali lagi, kondisi ini akan berdampak besar terhadap sektor pertanian. Biasanya petani mulai menanam pada November atau Desember, tetapi jika musim hujan mundur, waktu tanam juga harus bergeser hingga Januari. Hal tersebut dapat menurunkan produktivitas secara signifikan," kata Tri Wahyu menambahkan.
Sementara itu, Kepala PPI ITB, Prof. Ir. Djoko Santoso dalam kesempatan yang sama menjelaskan bahwa El Nino merupakan fenomena iklim yang berkaitan dengan peningkatan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik tropis. Fenomena tersebut dapat memengaruhi pola cuaca dan curah hujan di berbagai wilayah, termasuk Indonesia.
Menurutnya, kekuatan El Nino dapat dipantau melalui sejumlah indeks, salah satunya indeks Nino 3.4. Indeks tersebut mengukur anomali atau perbedaan suhu permukaan laut di wilayah tertentu di Samudra Pasifik yang kemudian menjadi salah satu indikator untuk melihat perkembangan El Nino.
Sejumlah kejadian sebelumnya menunjukkan variasi kekuatan El Nino, pada tahun 1997, 2015, dan 2023 tercatat sebagai periode dengan El Nino kuat hingga ekstrem. Bahkan, El Nino 2015 dikenal dengan istilah "Godzilla El Nino" karena kekuatannya yang sangat besar.
Terkait El Nino 2026, menurutnya berdasarkan indeks Nino 3.4 terjadi peningkatan menuju ke arah ekstrem sejak Juni 2026. Oleh karena itu PPI ITB mendorong peningkatan kesiapan pemerintah dan masyarakat untuk menghadapi potensi kekeringan, terutama dengan memperkuat kapasitas pengelolaan air dan sektor rentan akibat fenomena ini.
"Jadi, apakah ini yang lebih parah dan lain sebagainya, kita tidak bisa memastikan. Tapi yang jelas kalau ukurannya indeks, saat ini mulai dari Juni indeksnya mulai naik dan akan menuju ekstrem," katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....