Pembatasan Medsos tanpa Edukasi, Berisiko Ganggu Perkembangan Anak
- 03 Apr 2026 12:21 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Pemerhati Psikologi Komunikasi Anak dan Keluarga Universitas Pasundan Bandung, Dr. Almadina Rakhmaniar, mengingatkan bahwa pembatasan akses media sosial bagi anak-anak tanpa edukasi dan komunikasi yang baik justru berpotensi menimbulkan masalah baru.
Menurutnya, fokus utama bukan sekadar melarang anak menggunakan media sosial, melainkan memahami kebutuhan anak untuk mengakses informasi. Jika kebutuhan tersebut tiba-tiba hilang tanpa pendampingan, anak bisa mencari cara lain yang berisiko bagi perkembangan mental maupun perilaku mereka.
“Peran orang tua sangat penting, bukan hanya melarang tetapi juga mendampingi. Ketika anak terbiasa bermain gadget lalu aksesnya dihentikan, kebutuhan itu harus digantikan dengan kegiatan lain, misalnya bermain bersama orang tua atau belajar bersama,” ujar Almadina di Bandung, Jumat 3 April 2026.
Ia menekankan, orang tua harus memberikan contoh yang baik. Jangan sampai anak dilarang bermain gadget, sementara orang tua tetap sibuk dengan gawainya. “Momen itu krusial. Orang tua harus hadir menggantikan kebutuhan anak dengan aktivitas produktif,” tambahnya.
Almadina juga mengingatkan risiko terbesar jika pembatasan dilakukan tanpa edukasi. Anak bisa mencari cara untuk tetap mengakses media sosial, bahkan dengan memanipulasi data pribadi agar terlihat lebih dewasa. “Anak zaman sekarang sudah canggih. Mereka bisa mengubah tahun lahirnya supaya terlihat lebih tua dan tetap bisa mengakses aplikasi,” jelasnya.
Kondisi tersebut, menurutnya, dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan mental anak. Kebiasaan yang sudah menjadi kebutuhan tidak akan hilang hanya karena akses dihentikan. Tanpa pendampingan, anak bisa beralih ke perilaku yang tidak sesuai dengan usia mereka.
Karena itu, kunci pembatasan media sosial ada pada pendampingan dari orang tua maupun guru di sekolah. Edukasi dan komunikasi yang baik akan membantu anak memahami alasan pembatasan sekaligus mengarahkan mereka pada kegiatan yang lebih positif.
“Pembatasan harus dipahami sebagai proses untuk mengurangi kebiasaan negatif, bukan sekadar menghentikan akses. Dengan pendampingan yang tepat, anak bisa diarahkan pada penggunaan media yang lebih sehat dan bermanfaat,” tegas Almadina.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....