Ketergantungan Impor Bahan Baku Masalah Utama Industri Farmasi
- 29 Jan 2026 15:57 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung – Anggota Komisi VII DPR RI, Erna Sari Dewi, menilai tingginya ketergantungan impor bahan baku menjadi persoalan mendasar yang hingga kini masih membelit industri farmasi nasional, termasuk PT Bio Farma (Persero) sebagai induk holding BUMN farmasi. Hal tersebut disampaikan Erna Sari Dewi usai mengikuti kunjungan kerja spesifik Komisi VII DPR RI ke PT Bio Farma (Persero) di Bandung, Kamis 29 Januari 2026.
Dalam kunjungan tersebut, Komisi VII DPR RI secara khusus ingin menggali dan memetakan berbagai persoalan yang dihadapi industri farmasi nasional dari masa ke masa.
“Permasalahan utamanya adalah ketergantungan bahan baku yang sangat besar. Di atas 90 persen bahan baku farmasi kita masih bergantung pada impor. Ini tentu menjadi masalah utama dan tidak bisa hanya dilihat sebagai kegagalan korporasi semata,” ujar Erna usai mengikuti kunjungan kerja spesifik Komisi VII DPR RI ke PT Bio Farma (Persero) di Bandung, Kamis 29 januari 2026.
Ia menjelaskan, Bio Farma sebagai induk holding perusahaan farmasi, yang membawahi sejumlah BUMN farmasi seperti PT Kimia Farma dan PT Indofarma, menghadapi persoalan yang relatif sama. Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan belum kuatnya kebijakan pemerintah dalam membangun kemandirian bahan baku farmasi nasional.
“Kunjungan kerja spesifik ini memang untuk ‘belanja masalah’. Kita ingin melihat langsung, apa saja persoalan yang dihadapi Bio Farma dan anak perusahaannya. Dan faktanya, permasalahan mereka hampir sama, yaitu ketergantungan pada bahan baku impor,” jelasnya.
Baca juga:Kunjungi Bio Farma, DPR Minta Sektor Kesehatan PSN
Erna menegaskan bahwa tingginya ketergantungan impor menunjukkan belum adanya kebijakan yang secara tegas menetapkan bahan baku farmasi sebagai industri strategis nasional. Padahal, menurutnya, penetapan tersebut sangat penting untuk mendorong kemandirian industri farmasi dalam negeri.
“Ini menjadi cermin bahwa sampai hari ini belum ada kebijakan pemerintah yang secara kuat menjadikan bahan baku farmasi sebagai industri strategis nasional. Padahal ini penting untuk mengurangi ketergantungan impor sekaligus mewujudkan kemandirian farmasi nasional,” tegasnya.
Erna juga mengungkapkan bahwa sebagian besar bahan baku farmasi yang digunakan saat ini masih diimpor dari negara seperti Cina dan India. Ironisnya, bahan baku impor tersebut justru memiliki harga yang lebih murah dibandingkan jika diproduksi di dalam negeri.
“Sebagian besar bahan baku itu impor dari Cina dan India. Yang lebih parah, bahan baku impor tersebut harganya lebih murah karena mereka bisa memproduksi dalam volume besar, sehingga biaya produksinya rendah dan bisa dijual murah ke negara kita,” ucapnya.
Sementara itu, Indonesia dinilai belum memiliki kemampuan memproduksi bahan baku farmasi sendiri, terutama dalam skala besar. Kondisi tersebut membuat industri farmasi nasional berada dalam posisi sulit karena harus bersaing dengan produk impor yang lebih murah.
“Kalau kita memaksakan produksi sendiri tanpa dukungan kebijakan yang kuat, mereka akan terbentur pada biaya produksi. Ujung-ujungnya akan berpengaruh pada harga produk. Ini yang menjadi dilema,” tandasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....