Wamen Komdigi RI AI Dorong Efisiensi Newsroom

  • 27 Nov 2025 17:46 WIB
  •  Bandung

KBRN, Bandung; Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kian masif dan mulai digunakan secara luas di berbagai sektor, termasuk industri media. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi) Nezar Patria, menegaskan bahwa AI kini membantu ruang redaksi (newsroom) dalam proses produksi konten secara lebih efisien dan optimal.

Menurutbya, penggunaan AI telah berkembang jauh, bukan hanya untuk mempercepat produksi, tetapi juga membantu media melakukan analisis prediktif terhadap distribusi konten, memahami tren audiens, hingga mempercepat riset redaksional.

“Diskusi ini tepat waktu karena perkembangan AI begitu masif dan intens. Adopsi teknologinya sudah masuk begitu dalam ke media. Kita lihat bagaimana artificial intelligence membantu produksi di newsroom, membuat produksi konten lebih efisien dan optimal,” ujar Wamen Komdigi RI Nezar Patria usai menghadiri acara MediaConnect, Dari Cepat Jadi Cermat Menyikapi AI di Meja Redaksi, di Cornerstone Auditorium, Paskal Hyper Square, Bandung, Kamis (27/11/2025).

Nezar menjelaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan sejumlah instrumen untuk mengatur pemanfaatan kecerdasan buatan di industri media. Dua dokumen utama yang sedang difinalisasi, Panduan Etika AI.

Kedua dokumen tersebut kini dalam proses pembahasan di Kementerian Hukum dan HAM untuk kemudian diusulkan menjadi Peraturan Presiden.

Baca juga:Pembekalan Ketahanan Pangan untuk Prajurit Yonif Teritorial Pembangunan

Selain regulasi pemerintah, media massa juga disebut telah mulai menyusun pedoman internal terkait penggunaan AI dalam produksi konten. Dewan Pers juga telah mengeluarkan panduan penggunaan AI untuk media sebagai acuan sementara di lapangan.

“Sejumlah regulasi baik eksternal maupun internal ini bisa menjadi pedoman sementara bagi media dalam menyikapi perkembangan AI di ruang redaksi,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Wamen Komdigi RI juga menyoroti maraknya penyalahgunaan AI dalam pembuatan konten palsu super-realistik atau deepfake, yang digunakan untuk penyebaran disinformasi, penipuan, hingga scamming.

“Generatif AI bisa membuat video, foto, hingga meniru suara dengan sangat realistis. Banyak deepfake digunakan untuk penipuan dan sudah banyak korbannya,” tuturnya.

Pemerintah, telah berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk mencegah penyebaran deepfake secara masif, di antaranya:

Polri, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi, Keuangan (PPATK), Bank Indonesia (BI)Platform digital.

“Deepfake ini mirip dengan modus scam lainnya, tapi jauh lebih canggih dan mampu mengecoh. Karena itu dibutuhkan literasi digital agar masyarakat bisa membedakan konten sintetis dan konten asli,” katanya.

Mengenai kemungkinan penggunaan deepfake oleh media untuk mengejar klik atau pembaca, Nezar memastikan bahwa produk jurnalistik tidak menggunakan teknologi tersebut.

“Kalau di berita tidak ada yang menggunakan AI deepfake. Deepfake itu dipakai oleh pihak-pihak yang ingin menipu, bukan oleh media,” tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....