Jejak Sejarah Sate Maranggi Purwakarta

  • 31 Mei 2026 07:13 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Sate Maranggi telah lama menjadi salah satu ikon kuliner Jawa Barat yang dikenal hingga berbagai daerah di Indonesia. Di balik kelezatan daging bakar bercita rasa manis gurih tersebut, tersimpan sejarah panjang yang menjadikannya bagian penting dari identitas budaya masyarakat Purwakarta.

Dilansir dari kanal YouTube Kirarasa, sejarah Sate Maranggi dipercaya bermula dari sosok bernama Mak Anggi yang hidup di wilayah Purwakarta. Dalam tradisi masyarakat setempat, Mak Anggi dikenal sebagai pelopor pengolahan sate dengan teknik perendaman daging menggunakan bumbu sederhana berbahan gula aren dan garam sebelum dibakar.

Seiring berjalannya waktu, nama Mak Anggi mengalami perubahan penyebutan menjadi "Maranggi". Nama tersebut kemudian melekat sebagai identitas kuliner khas Purwakarta yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Peneliti budaya dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menjelaskan bahwa Sate Maranggi memiliki nilai sejarah dan budaya yang kuat. Pada 2017, kuliner khas ini bahkan menjadi objek kajian dalam upaya pengusulan sebagai Warisan Budaya Tak benda Indonesia.

Berbeda dengan banyak jenis sate di Nusantara yang menggunakan bumbu kacang atau kuah pelengkap, Sate Maranggi memiliki ciri khas pada proses marinasi daging sebelum dibakar. Bumbu yang digunakan relatif sederhana, namun mampu menghasilkan cita rasa manis, gurih, dan aroma khas yang kuat.

Keistimewaan lainnya terletak pada penggunaan daging sapi pilihan serta proses pembakaran tradisional menggunakan bara batok kelapa. Teknik tersebut dipercaya mampu menghasilkan tekstur daging yang empuk dengan aroma asap yang khas.

Popularitas Sate Maranggi terus berkembang seiring bertambahnya jumlah pedagang dan rumah makan yang menjual hidangan tersebut di Purwakarta maupun daerah lain. Meski demikian, banyak pelaku kuliner tetap mempertahankan teknik pengolahan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.

Chef Renatta Moeloek dalam penelusurannya menilai kesederhanaan justru menjadi kekuatan utama Sate Maranggi. Menurutnya, minimnya penggunaan bumbu membuat kualitas daging dan ketepatan proses memasak menjadi faktor penentu kelezatan hidangan tersebut.

Kini, Sate Maranggi bukan hanya menjadi sajian favorit wisatawan yang berkunjung ke Purwakarta, tetapi juga simbol kekayaan gastronomi Sunda yang mampu bertahan di tengah perkembangan kuliner modern. Dari resep sederhana yang diwariskan masyarakat lokal, Sate Maranggi tumbuh menjadi salah satu kuliner legendaris Indonesia yang terus menjaga cita rasa dan sejarahnya hingga hari ini.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....