Terungkap! Tahu Sumedang Berasal dari Satu Keluarga, Kisahnya Sudah 106 Tahun

  • 31 Mei 2026 07:08 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Banyak orang mengenal Tahu Sumedang sebagai kuliner khas Jawa Barat yang mudah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Namun tidak banyak yang mengetahui bahwa tahu legendaris tersebut ternyata berawal dari satu keluarga perintis yang hingga kini masih mempertahankan resep dan teknik produksi tradisional selama lebih dari 100 tahun.

Fakta menarik tersebut terungkap dalam tayangan kanal YouTube Kirarasa yang menghadirkan Chef Juna Rorimpandey dan Chef Renatta Moeloek saat menelusuri sejarah serta proses pembuatan Tahu Bungkeng di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

Tahu Bungkeng diketahui merupakan pelopor lahirnya Tahu Sumedang yang kini menjadi identitas kuliner daerah tersebut. Generasi keempat penerus usaha, Suriadi Ukim, menjelaskan bahwa usaha keluarga itu telah berdiri sejak tahun 1917 dan dirintis oleh keluarga keturunan Tionghoa yang datang ke Sumedang membawa keahlian membuat tahu dari Tiongkok.

Nama "Bungkeng" sendiri berasal dari Ong Bungkeng, generasi kedua yang melanjutkan usaha keluarganya setelah sang ayah, Ong Kino, terlebih dahulu membuka usaha pembuatan tahu di Sumedang. Dari usaha sederhana itulah cikal bakal Tahu Sumedang lahir dan berkembang hingga dikenal secara nasional.

Menurut cerita keluarga, pada awal abad ke-20 seorang pangeran dari Sumedang pernah mencicipi tahu buatan keluarga tersebut dan memberikan apresiasi tinggi atas cita rasanya. Sejak saat itu, tahu buatan Ong Bungkeng semakin dikenal masyarakat dan permintaannya terus meningkat.

Seiring berjalannya waktu, beberapa karyawan yang pernah bekerja di usaha tersebut mendirikan usaha serupa. Mereka kemudian menyebarkan teknik produksi tahu ke berbagai wilayah Sumedang hingga akhirnya kota tersebut dikenal luas sebagai "Kota Tahu".

"Kalau ditelusuri sejarahnya, hampir seluruh tahu yang sekarang dikenal sebagai Tahu Sumedang berawal dari Tahu Bungkeng," ungkap Suriadi dalam tayangan tersebut.

Yang menarik, meskipun telah bertahan lebih dari satu abad, proses produksi Tahu Bungkeng masih mempertahankan metode tradisional. Berbagai tahapan seperti penggilingan kedelai, penyaringan susu kedelai, penggumpalan protein menggunakan cuka, pencetakan, pemotongan hingga penggorengan masih banyak mengandalkan keterampilan tangan para pengrajin.

Chef Juna mengaku terkejut melihat proses produksi yang jauh dari kesan modern. Ia mengira usaha legendaris tersebut menggunakan pabrik besar dengan mesin canggih, namun justru menemukan proses yang masih didominasi peralatan kayu, bambu, dan keterampilan manusia.

"Kualitas tahu ini ternyata tidak hanya berasal dari resep, tetapi juga dari proses dan dedikasi para pengrajinnya," ujar Chef Juna.

Selain teknik produksi, kualitas air Sumedang disebut menjadi salah satu faktor yang membuat Tahu Sumedang memiliki karakter khas. Kandungan mineral dan kadar air yang berbeda menghasilkan tekstur tahu yang lebih ringan dan berongga ketika digoreng sehingga menciptakan sensasi renyah di luar namun tetap lembut di bagian dalam.

Tidak hanya mempertahankan tradisi, generasi penerus juga melakukan inovasi. Salah satu produk terbaru adalah tahu rumput laut yang dikembangkan saat masa pandemi COVID-19. Produk tersebut menggabungkan susu kedelai, telur, dan rumput laut sehingga menghasilkan tekstur lebih lembut dengan cita rasa yang lebih gurih.

Di balik kesuksesan Tahu Sumedang, terdapat pula peran petani kedelai lokal yang memasok bahan baku utama. Petani kedelai dari Majalengka menjelaskan bahwa varietas lokal seperti Dega dan Anjasmoro memiliki kandungan protein lebih tinggi dibandingkan kedelai impor sehingga menghasilkan kualitas tahu yang lebih baik.

Meski demikian, para petani masih menghadapi tantangan berupa fluktuasi harga dan rendahnya keuntungan budidaya kedelai lokal. Kondisi tersebut menjadi perhatian penting mengingat tahu dan tempe merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya pangan Indonesia.

Hingga kini, Tahu Bungkeng tetap menjadi simbol dedikasi, konsistensi, dan warisan kuliner yang berhasil melewati berbagai generasi. Dari sebuah usaha keluarga sederhana di Sumedang, lahirlah kuliner legendaris yang namanya kini dikenal hampir di seluruh Indonesia.

Lebih dari sekadar makanan, Tahu Sumedang telah menjadi bagian dari identitas budaya, sejarah migrasi, inovasi pangan, dan bukti bahwa kualitas serta kejujuran dalam melayani pelanggan mampu menjaga sebuah usaha tetap bertahan selama lebih dari satu abad.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....