BPS Jabar: Musim Kemarau 2026,Kesejahteraan Petani Menguat
- 07 Jul 2026 10:25 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Melalui rilis resmi BPS Jawa Barat menyebutkan indikator strategis terbaru, BPS Jabar mengonfirmasi bahwa kendati inflasi Juni terkerek naik ke level 0,28 persen akibat penyesuaian harga energi dan dampak awal musim kemarau. Namun stabilitas ekonomi daerah tetap terjaga kokoh yang ditandai dengan menguatnya daya beli petani serta capaian surplus neraca perdagangan luar negeri yang menembus angka fantastis USD 11,31 miliar.
Berdasarkan pemantauan wilayah, Kota Depok mencatatkan inflasi bulanan _(m-to-m)_ tertinggi di Jawa Barat sebesar 0,42 persen. Sedangkan untuk inflasi tahun ke tahun _(y-on-y)_, tertinggi dipegang oleh Kabupaten Majalengka sebesar 3,40 persen, disusul ketat oleh Kota Bandung sebesar 3,37 persen.
“Namun selain yang menyumbang andil infladi ada juga komoditas yang mengalami penurunan harga dan menyumbang andil deflasi yaitu daging ayam ras, telur ayam ras, cabai rawit, ikan mas dan cabai merah.”, rinci Margaretha Ari Anggorowati selaku Kepala BPS Provinsi Jawa Barat kepada awak media, Senin 6 Juli 2026.
Kesejahteraan Petani Menguat di Tengah Musim Kemarau, NTP Naik 0,57 persen. Rapor positif ditunjukkan dari tingkat kesejahteraan produsen pertanian. Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Barat pada Juni 2026 tercatat sebesar 118,97, meningkat 0,57 persen dibandingkan Mei 2026. Selaras dengan itu, Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) terkerek naik 0,55 persen menuju level 123,78.
"Kenaikan NTP maupun NTUP ini didorong oleh naiknya indeks harga yang diterima oleh petani (It) sebesar 0,70 persen, yang lajunya jauh lebih tinggi dibanding kenaikan indeks harga yang dibayar petani (Ib) yang hanya sebesar 0,14 persen. Kenaikan harga di tingkat produsen pertanian ini dipengaruhi langsung oleh harga gabah yang merangkak naik karena musim panen raya sudah berlalu dan stok mulai berkurang. Sementara kenaikan sayur-sayuran dan buah-buahan seperti bawang merah, kol, dan wortel dipengaruhi oleh datangnya musim kemarau," urai Ari.
Meski begitu, Ari memberikan catatan pengingat mengenai struktur biaya produksi pertanian yang juga mengalami kenaikan. Yaitu dari sisi biaya produksi salah satunya akibat kenaikan harga bensin.
"Petani kita juga menghadapi kenaikan Indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) sebesar 0,15 persen. Hal ini utamanya dipicu oleh komoditas bensin. Bensin ini menjadi sangat esensial dan dibutuhkan oleh petani salah satunya menggerakkan mesin pompa pengairan sawah dan ladang mereka selama musim kemarau.", tutup Ari.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....