Fundamental Ekonomi Jabar Pertengahan 2026 Ekspansif dan Resilien

  • 07 Jul 2026 10:24 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat menegaskan bahwa fundamental ekonomi Jawa Barat di pertengahan tahun 2026 ini berada dalam kondisi yang ekspansif dan resilien di tengah tantangan musiman. Melalui rilis resmi indikator strategis terbaru, BPS Jabar mengonfirmasi bahwa kendati inflasi Juni terkerek naik ke level 0,28 persen akibat penyesuaian harga energi dan dampak awal musim kemarau, stabilitas ekonomi daerah tetap terjaga kokoh yang ditandai dengan menguatnya daya beli petani serta capaian surplus neraca perdagangan luar negeri yang menembus angka fantastis USD 11,31 miliar. Demikian disampaikan Kepala BPS Provinsi Jawa Barat dalam rilis Berita Resmi Statistik di awal Juli 2026 ini.

Melalui siaran langsung di kanal YouTube BPS Jabar, Kepala BPS Provinsi Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati memaparkan perkembangan komprehensif terkait inflasi, Nilai Tukar Petani (NTP), kinerja pariwisata, pergerakan transportasi, hingga rapor ekspor-impor Jawa Barat. Inflasi Juni 2026 Terkatung Kenaikan BBM Non-Subsidi dan Dampak Kemarau.

Pada bulan Juni 2026, Provinsi Jawa Barat mengalami inflasi sebesar 0,28 persen secara _month-to-month (m-to-m)_. Adapun tingkat inflasi tahun kalender _(year-to-date)_ berada di level 1,70 persen, sedangkan inflasi tahunan _(year-on-year)_ melesat di angka 3,08 persen.

"Secara umum, inflasi bulan Juni 2026 sebesar 0,28 persen dipengaruhi kuat oleh naiknya harga bahan bakar minyak non-subsidi untuk jenis Pertamax dan Pertamax Green 95. Kenaikan harga ini memberikan andil inflasi yang cukup besar pada kelompok komoditas bensin, yakni mencapai 0,21 persen," ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati dalam keterangannya kepada awak media, Senin 6 Juli 2026.

Selain faktor energi, Ari menjelaskan adanya tantangan musiman dari sektor pangan. Itu seiring datangnya musim kemarau yang mulai terjadi di Jawa Barat.

"Memasuki musim kemarau yang dimulai pada pertengahan tahun 2026 ini, kami mencatat adanya dorongan kenaikan harga pada beberapa komoditas pangan dan hortikultura akibat menipisnya pasokan di pasar. Komoditas seperti bawang merah mengalami kenaikan dengan andil 0,03 persen, bawang putih memberikan andil 0,02 persen, serta beras dan tomat yang masing-masing menyumbang andil 0,01 persen menjadi pemicu inflasi," tambahnya.

Lebih lanjut, Kepala BPS Provinsi Jawa Barat juga menyoroti pergerakan komoditas global dan nilai tukar mata uang asing yang berdampak terhadap inflasi sepanjang Juni 2026. "Gejolak harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar global berimbas secara domestik, di mana harga minyak goreng dalam kemasan mengalami kenaikan di Jawa Barat. Di sisi lain, fluktuasi nilai tukar rupiah yang masih belum stabil menyebabkan harga komoditas pangan berbasis impor seperti bawang putih turut terkerek naik.", ujar Ari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....