Dokter Soroti Bahaya Self-Diagnose Melalui AI

  • 30 Sep 2026 16:49 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk mencari informasi kesehatan perlu dilakukan secara bijak. Masyarakat diingatkan tidak menjadikan hasil AI sebagai dasar untuk mendiagnosis penyakit sendiri. Hal tersebut disampaikan oleh Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa, dr. Lahargo Kembaren, Sp.KJ.

“informasi kesehatan dari AI tidak dapat menggantikan pemeriksaan dan diagnosis dari tenaga medis.” Ucapnya seperti yang dikutip dari Kantor Berita Antara, Kamis 24 September 2026.

Penggunaan AI secara berlebihan untuk mencari diagnosis dapat membuat seseorang salah memahami gejala yang dialami. Hal tersebut juga dapat menimbulkan kecemasan, terutama ketika seseorang menemukan informasi mengenai penyakit serius.

Lahargo mengingatkan masyarakat agar menggunakan AI sebatas untuk memperoleh informasi awal. Jika mengalami keluhan kesehatan, masyarakat tetap dianjurkan berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan.

Diagnosis medis memerlukan pemeriksaan yang menyeluruh, termasuk riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, dan bila diperlukan pemeriksaan penunjang. Karena itu, hasil pencarian dari AI tidak sebaiknya dijadikan pengganti konsultasi medis.

Masyarakat juga perlu memilih sumber informasi kesehatan yang terpercaya dan menghindari mengambil keputusan pengobatan sendiri tanpa arahan tenaga kesehatan.

Dengan demikian, pemanfaatan AI dalam bidang kesehatan sebaiknya ditempatkan sebagai sarana edukasi dan pencarian informasi, bukan sebagai alat untuk menentukan diagnosis maupun pengobatan. Masyarakat diharapkan tetap mengutamakan konsultasi dengan tenaga kesehatan agar informasi yang diperoleh dapat dikonfirmasi dan ditindaklanjuti secara tepat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....