Anak Sering Minta Susu, Ini Kata Dokter

  • 28 Sep 2026 20:03 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Kebiasaan memberikan susu setiap kali anak rewel atau menolak makanan dapat membuat anak lebih mudah kenyang dan berisiko mengganggu pola makan utamanya. Orang tua perlu membedakan susu sebagai pelengkap nutrisi dengan makanan utama.

Dokter Spesialis Anak, dr. Lucky Yogasatria, Sp.A., menyampaikan hal tersebut dalam podcast Parentalk yang tayang pada 4 September 2026. Menurutnya, susu tetap memiliki kandungan nutrisi yang baik, tetapi pemberiannya perlu disesuaikan dengan usia, kebutuhan anak, serta jadwal makan.

Lucky menjelaskan, susu dalam bentuk cair tetap dapat memberikan rasa kenyang karena mengandung protein, gula alami, dan sejumlah nutrisi. Namun, ketika anak memasuki masa pemberian makanan pendamping ASI (MPASI), porsi makanan padat secara bertahap perlu ditingkatkan agar anak belajar mengenal berbagai jenis makanan dan mengembangkan kemampuan makan.

Ia mengatakan, anak di bawah enam bulan dapat memperoleh kebutuhan nutrisi utamanya dari ASI. Setelah memasuki usia MPASI, orang tua perlu mulai mengurangi ketergantungan terhadap makanan cair secara bertahap dan memperkenalkan makanan padat dengan pola yang teratur. Setelah berusia satu tahun, makanan utama seharusnya menjadi sumber nutrisi yang lebih besar, sedangkan susu berfungsi sebagai pelengkap.

Menurut Lucky, persoalan dapat muncul ketika susu terus diberikan setiap kali anak tidak mau makan. Anak akhirnya dapat membentuk asosiasi bahwa ketika lapar atau tidak nyaman, susu menjadi jalan keluar sehingga tidak belajar menghadapi rasa lapar dan mengenal jadwal makan secara teratur.

“Kalau kamu tidak makan, kamu lapar. Kalau kamu minum susu, boleh-boleh saja, tapi bukan saat kamu harusnya makan utama,” ujar Lucky dalam tayangan Parentalk.

Lucky juga mengingatkan orang tua agar tidak menjadikan ukuran tubuh sebagai satu-satunya indikator kesehatan anak. Anak yang terlihat gemuk belum tentu lebih sehat karena penilaian pertumbuhan harus dilakukan secara objektif berdasarkan berat dan tinggi badan serta grafik pertumbuhan sesuai usia.

Ia menekankan, kebutuhan nutrisi anak tidak dapat dipenuhi hanya dengan satu jenis makanan atau minuman. Anak tetap membutuhkan pola makan yang bervariasi, mencakup karbohidrat, protein, lemak, serta berbagai vitamin dan mineral. Protein hewani seperti telur, ikan, ayam, dan sumber lainnya juga perlu mendapat perhatian karena mengandung asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh.

Orang tua juga perlu memperhatikan jadwal pemberian susu agar tidak terlalu dekat dengan waktu makan utama. Lucky menyebut, setelah usia satu tahun susu dapat menjadi salah satu pilihan pelengkap nutrisi dengan jumlah sekitar 400 hingga 500 mililiter per hari, sedangkan setelah usia dua tahun susu tidak lagi menjadi kebutuhan wajib selama kebutuhan nutrisi anak dapat dipenuhi melalui pola makan yang beragam.

Selain jumlah, orang tua disarankan memperhatikan kandungan susu, termasuk sumber bahan baku, protein, gula tambahan, serta keamanan proses produksinya. Lucky menjelaskan, susu UHT dapat memiliki masa simpan lebih lama karena melalui proses pemanasan dengan suhu tinggi dalam waktu singkat, bukan semata-mata karena penggunaan bahan pengawet.

Ia menambahkan, orang tua perlu membangun aturan makan yang jelas dan konsisten di rumah. Ketika anak rewel meminta susu di luar jadwal, orang tua sebaiknya mencari tahu penyebabnya terlebih dahulu, memberikan perhatian, serta membantu anak mengenali dan mengelola emosinya tanpa selalu menggunakan susu sebagai jalan keluar.

Jika anak terus-menerus hanya mau minum susu, sulit mengonsumsi makanan beragam, mengalami perubahan perilaku makan, atau pertumbuhannya tidak sesuai dengan grafik, Lucky menyarankan orang tua berkonsultasi dengan dokter anak. Evaluasi diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat masalah nutrisi, pola makan, maupun kondisi lain yang memengaruhi tumbuh kembang anak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....