Hingga Agustus 2026, di Kota Tasikmalaya Ditemukan 2303 Kasus TBC

  • 22 Sep 2026 16:32 WIB
  •  Bandung

RRI.CO ID, Tasimalaya- Pemerintah Kota Tasikmalaya mencatat, hingga sejak Januari hingga Agustus 2026 terdapat 2303 kasus Tuberkulosis (TBC). Kasus ini, mayoritas menimpa usia produktif.

Penggiat TBC Kota Tasikmalaya dr Dani Farid Abdullah mengatakan, setiap tahun selalu ditemukan kasus TBC. Pada tahun 2025 saja kata dia, di Kota Tasikmalaya tercatat terdapat 4290 kasus TBC.”iya ada yang sembuh, ada juga kasus baru yang ditemukan. Saat ini saja ada 22 pasien yang kita tangani di RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya,” katanya ditemui di RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya, Selasa 22 September 2026.

Dokter spesialis penyakit dalam RSUD dr. Soekardjo ini juga mengatakan, untuk jenis TBC ada dua jenis, yakni TBC sensitif obat, dan TBC resisten obat. “Jadi kalau TBC sensitif obat bisa disembuhkan dengan obat lini pertama yang ada di puskesmas. Sedangkan TBC resisten perlu penanganan obat berbeda. Tetapi alhamdulillah kita sudah memiliki polinya. Kalau dulu kan harus dirujuk,” katanya.

Maka dari itu, meski kasus dan tingkat kematian sudah dapat ditekan, pihaknya terus meningkatkan kerja sama lintas sektoral untuk menekan penyebaran TBC. Salah satunya, dengan pembentukan kampung siaga TBC di lebih dari 30 kelurahan.

“Iya kita sudah memiliki kelurahan siaga TBC di lebih dari 30 kelurahan. Harapannya, angka TBC dapat terus ditekan,” katanya.

Sementara itu sebelumnya Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI Benjamin Paulus Octavianus mengatakan, kasus Tuberkulosis (TB) di Jawa Barat tertinggi dibandingkan provinsi lain. Angka kasus TBC di Jabar mencapai 231 ribu kasus.

Ia mengatakan, meski tinggi, Jabar memiliki kelebihan dalam menemukan kasus TBC yang mencapai 97 persen. Sedangkan yang diobati lebih dari 93 persen.

“Meskipun kasusnya banyak, dalam penemuan kasus dan penanganannya, Jabar sudah baik. Sehingga saat ini angkanya terus berkurang,” katanya, usai meresmikan Kelurahan Siaga TBC di Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya, Selasa 22 September 2026.

Maka, untuk terus menekan angka TBC, kata Wamenkes, saat ini penanganan dilakukan dengan jemput bola.”jadi kita tidak menunggu lagi, kita akan masuk ke perkampungan, terutama di tempat penderita TBC, dari orang terdekat,” katanya mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....