Anak Memukul Bukan Berarti Nakal, Berikut Penjelasannya

  • 31 Agt 2026 04:04 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung: Anak yang memukul atau melempar barang ketika marah tidak selalu menunjukkan perilaku nakal, karena kemampuan mengatur emosi masih berkembang sesuai tahapan usianya.

Penjelasan mengenai perilaku agresif pada anak tersebut dibahas dalam video kanal YouTube Parentalk yang diunggah pada 14 Agustus 2026, dengan mengulas perkembangan kontrol diri dan peran orang tua.

Dalam perkembangan anak, respons agresif secara fisik dapat mulai terlihat sejak usia satu hingga dua tahun, terutama ketika anak menghadapi rasa kecewa, marah, atau tidak nyaman.

Perilaku tersebut berkaitan dengan kemampuan kontrol diri yang belum berkembang secara matang, sehingga anak belum selalu mampu menahan dorongan untuk langsung bereaksi ketika emosinya meningkat.

Kemampuan mengendalikan diri berkembang secara bertahap, mulai dari mengenali perasaan tidak nyaman hingga belajar menenangkan diri sebelum melakukan tindakan sebagai respons terhadap suatu masalah.

Ketika anak memukul, menendang, atau melempar barang saat marah, tindakan tersebut dapat menjadi bentuk pelampiasan emosi karena kemampuan mengendalikan reaksi masih dalam proses perkembangan.

Selain kemampuan kontrol diri, keterbatasan bahasa juga dapat membuat anak kesulitan menyampaikan perasaan melalui kata-kata ketika menghadapi situasi yang membuatnya frustrasi.

Anak yang belum mampu menjelaskan rasa marah, kecewa, atau keinginannya secara verbal dapat menggunakan tindakan fisik sebagai cara yang paling mudah untuk menyampaikan emosinya.

Sejumlah penelitian mengenai perkembangan anak juga menunjukkan adanya hubungan antara kemampuan bahasa ekspresif dengan intensitas tantrum, terutama pada anak yang masih berada dalam tahap perkembangan bahasa.

Karena itu, orang tua perlu memahami bahwa perilaku memukul atau melempar barang tidak selalu muncul karena anak sengaja ingin bersikap keras, melainkan dapat berkaitan dengan keterampilan emosi dan komunikasi yang belum matang.

Dalam kondisi tersebut, anak membutuhkan bantuan orang dewasa untuk belajar mengenali perasaan, memahami batas perilaku, serta menemukan cara yang lebih aman untuk mengekspresikan kemarahan.

Pendampingan tersebut dikenal dengan istilah co-regulation, yaitu proses ketika orang dewasa membantu anak mengatur emosi melalui kehadiran, ketenangan, dan respons yang sesuai.

Ketika menghadapi anak yang sedang marah, orang tua dapat berusaha tetap tenang sambil memastikan lingkungan di sekitar anak tetap aman dan memberikan batasan terhadap tindakan yang dapat membahayakan.

Seiring bertambahnya usia dan pengalaman, anak diharapkan semakin mampu mengenali emosinya serta menggunakan kemampuan yang dipelajari dari pendampingan orang tua untuk mengatur responsnya sendiri.

Dengan demikian, menghadapi perilaku agresif anak tidak cukup hanya dengan memberikan label sebagai anak nakal, tetapi perlu memahami kemampuan perkembangan yang sedang dibangun.

Pendekatan yang tenang, konsisten, dan sesuai usia dapat membantu anak belajar bahwa marah merupakan emosi yang wajar, sementara memukul atau melempar bukan cara yang tepat untuk menyampaikannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....