Ini Bahaya Tersembunyi Judi Online Dari Segi Kesehatan

  • 30 Jul 2026 07:07 WIB
  •  Bandung
Poin Utama
  • Judi online dapat menyebabkan gangguan fungsi otak yang mirip dengan kecanduan narkotika karena memengaruhi sistem penghargaan di otak.
  • Kecanduan judi online melibatkan perubahan struktur dan susunan kimia otak sehingga penderitanya terus terdorong mengulang perilaku berjudi meski mengalami kerugian.
  • Penanganan kecanduan judi online memerlukan pendekatan holistik meliputi intervensi medis, psikologis, dan dukungan keluarga.

RRI.CO.ID, Bandung - Judi online tidak hanya mengancam kondisi keuangan seseorang, tetapi juga dapat menyebabkan gangguan fungsi otak yang membuat penderitanya mengalami kecanduan layaknya penyalahguna narkotika. Kondisi tersebut terjadi karena aktivitas berjudi memengaruhi sistem penghargaan (reward system) di otak sehingga seseorang terus terdorong mengulang perilaku berjudi meski mengalami kerugian.

Informasi tersebut disampaikan dr. Saddam Ismail dalam tayangan kanal YouTube pribadinya bertajuk "Penyebab Kecanduan Judi Online dan Cara Berhentinya" yang dipublikasikan pada 25 Juli 2024. Dalam edukasi kesehatan tersebut dijelaskan bahwa kecanduan judi online merupakan gangguan yang melibatkan perubahan struktur dan susunan kimia otak sehingga penanganannya memerlukan pendekatan medis, psikologis, serta dukungan keluarga.

dr. Saddam Ismail menjelaskan bahwa saat seseorang berjudi, otak akan melepaskan hormon dopamin dalam jumlah besar. Hormon tersebut menimbulkan rasa senang, puas, dan antusias secara berlebihan sehingga otak terdorong untuk terus mencari sensasi yang sama melalui aktivitas berjudi.

"Perubahan yang terjadi pada otak pecandu judi online memiliki pola yang hampir sama dengan pecandu narkoba sehingga tidak mudah dihentikan hanya dengan mengandalkan kemauan sendiri," ujar dr. Saddam Ismail.

Ia menjelaskan, salah satu mekanisme yang membuat seseorang sulit berhenti adalah adanya efek hampir menang (near miss effect). Dalam kondisi tersebut, meskipun pemain sebenarnya kalah, otak menerima sinyal seolah-olah kemenangan sudah sangat dekat sehingga muncul dorongan untuk kembali memasang taruhan dengan harapan memperoleh hasil berbeda.

Selain itu, sistem permainan judi online juga menerapkan sistem hadiah variabel (variable reward system), yakni kemenangan kecil yang muncul secara acak dan tidak dapat diprediksi. Menurut dr. Saddam, pola tersebut membuat otak terus berada dalam kondisi penasaran dan menunggu hadiah berikutnya sehingga memicu perilaku bermain secara berulang.

Akibat paparan dopamin yang terus-menerus, reseptor dopamin di dalam otak akan mengalami penurunan sensitivitas atau toleransi. Kondisi tersebut membuat seseorang harus memasang taruhan dengan nominal yang lebih besar atau bermain lebih lama hanya untuk mendapatkan tingkat kepuasan yang sebelumnya dapat diperoleh dengan jumlah taruhan lebih kecil.

Dalam kesempatan itu, dr. Saddam juga mengungkapkan bahwa banyak pelaku judi online awalnya menjadikan perjudian sebagai pelarian dari tekanan hidup, masalah ekonomi, maupun beban psikologis. Namun, kebiasaan tersebut justru memperburuk kondisi karena kerugian finansial yang dialami akan memunculkan stres baru, bahkan mendorong sebagian orang melakukan pinjaman hingga tindak kriminal demi memperoleh modal bermain kembali.

"Judi online bukan solusi dari masalah. Justru semakin sering dimainkan, masalah ekonomi, kesehatan mental, dan hubungan keluarga akan semakin berat," kata dr. Saddam.

Untuk menghentikan kecanduan, ia menyarankan langkah pertama berupa memutus akses terhadap sumber dana, misalnya dengan menyerahkan pengelolaan rekening, kartu ATM, atau layanan perbankan digital kepada anggota keluarga yang dipercaya. Selain itu, seluruh aplikasi, situs, maupun media sosial yang berkaitan dengan perjudian perlu dihapus agar tidak menjadi pemicu kambuh.

dr. Saddam juga menekankan pentingnya menghindari lingkungan yang mendukung aktivitas perjudian serta mencari kegiatan positif sebagai pengganti, seperti berolahraga, mengikuti kegiatan sosial, maupun memperdalam hobi yang dapat memberikan kepuasan secara sehat.

Menurutnya, apabila kecanduan sudah mengganggu kehidupan sehari-hari, penderita sebaiknya segera berkonsultasi kepada psikolog atau psikiater untuk menjalani terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy/CBT). Terapi tersebut bertujuan membantu pasien mengubah pola pikir yang keliru mengenai peluang menang sekaligus melatih kemampuan mengendalikan dorongan berjudi.

Sebagai penutup, dr. Saddam Ismail mengingatkan bahwa pemulihan dari kecanduan judi online membutuhkan komitmen jangka panjang serta dukungan penuh dari keluarga. Ia berharap masyarakat semakin memahami bahwa kecanduan judi bukan sekadar persoalan moral atau lemahnya kemauan, melainkan gangguan yang memerlukan penanganan secara menyeluruh agar penderitanya dapat kembali menjalani kehidupan yang sehat, produktif, dan terbebas dari jeratan perjudian digital.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....