Fenomena Ketindihan saat Tidur Dilihat Dari Sisi Medis
- 13 Jul 2026 16:38 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung – Ketindihan atau sleep paralysis masih sering dikaitkan dengan hal-hal mistis. Padahal, kondisi tersebut merupakan gangguan tidur yang terjadi ketika seseorang sadar, tetapi tubuh belum dapat digerakkan.
Secara medis, sleep paralysis terjadi saat otak terbangun lebih dahulu, sementara tubuh masih berada pada fase Rapid Eye Movement (REM). Kondisi ini umumnya berlangsung selama beberapa detik hingga beberapa menit.
Dalam Sleep Medicine Reviews, psikolog klinis Brian A. Sharpless dan Jacques P. Barber mengungkapkan sekitar 7,6 persen populasi umum pernah mengalami sleep paralysis setidaknya sekali seumur hidup. Penelitian tersebut menegaskan fenomena ini memiliki dasar neurofisiologis.
Selain tubuh sulit digerakkan, penderita dapat mengalami halusinasi. Sensasi melihat bayangan, mendengar suara, atau merasa ada sosok di sekitar muncul karena aktivitas otak masih dipengaruhi fase REM.
Kurang tidur, stres, gangguan kecemasan, serta pola tidur yang tidak teratur menjadi faktor yang meningkatkan risiko sleep paralysis. Pada sebagian kasus, kondisi ini juga berkaitan dengan gangguan tidur lain, seperti narkolepsi.
Meski menimbulkan rasa takut, sleep paralysis umumnya tidak membahayakan kesehatan. Menjaga waktu tidur yang cukup, mengelola stres, dan menerapkan pola tidur yang konsisten dapat membantu mengurangi risikonya.
Masyarakat diimbau tidak langsung mengaitkan ketindihan dengan hal mistis. Apabila kondisi ini terjadi berulang atau mengganggu aktivitas sehari-hari, konsultasi dengan tenaga medis diperlukan untuk memperoleh penanganan yang tepat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....