Kenali Penyakit Berbahaya Akibat Tikus
- 30 Jun 2026 13:53 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung: Penyakit yang ditularkan tikus kembali menjadi perhatian masyarakat menyusul meningkatnya pembahasan mengenai hantavirus dalam beberapa waktu terakhir. Meski demikian, masyarakat diminta tidak panik karena penyakit tersebut berbeda dengan leptospirosis maupun pes yang juga ditularkan melalui tikus, sehingga pemahaman mengenai gejala dan pencegahan menjadi langkah penting untuk melindungi kesehatan.
Dokter Novi, Board of Medical Excellence Halodoc, menjelaskan dalam podcast Halodoc Talks yang tayang pada 3 Juni 2026 bahwa terdapat tiga penyakit utama yang berkaitan dengan tikus di Indonesia, yaitu pes, leptospirosis, dan hantavirus. Menurutnya, edukasi kepada masyarakat jauh lebih penting dibandingkan menimbulkan ketakutan.
"Podcast ini bukan untuk menakut-nakuti masyarakat, tetapi memberikan informasi berdasarkan pedoman Kementerian Kesehatan," ujar dr. Novi.
Ia menjelaskan penyakit pes merupakan infeksi yang ditularkan melalui gigitan kutu yang hidup pada tubuh tikus. Gejala khasnya berupa pembengkakan kelenjar getah bening atau bubo yang terasa nyeri.
Apabila tidak segera ditangani, penyakit tersebut dapat berkembang menjadi infeksi berat hingga menyebabkan kematian. Sementara itu, leptospirosis masih menjadi penyakit yang cukup sering ditemukan di Indonesia, terutama setelah terjadi banjir.
Menurut dr. Novi, bakteri Leptospira hidup di ginjal tikus dan keluar melalui urine, kemudian mencemari genangan air yang masuk ke tubuh manusia melalui luka pada kulit. "Leptospirosis sering meningkat setelah banjir karena air telah terkontaminasi urine tikus," ungkapnya.
Ia mengatakan gejala leptospirosis umumnya berupa demam, nyeri otot terutama pada betis, mata merah tanpa kotoran mata, hingga kulit menguning. Pada kasus berat, penyakit ini dapat menyebabkan gagal ginjal sehingga membutuhkan penanganan medis secepatnya.
Berdasarkan data nasional, Indonesia mencatat sekitar 800 hingga 1.200 kasus leptospirosis setiap tahun dengan angka kematian sekitar 7 hingga 10 persen. Mengenai hantavirus, dr. Novi menuturkan virus tersebut sebenarnya telah lama ditemukan di Indonesia.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sepanjang periode 2023 hingga 2025 tercatat 23 kasus terkonfirmasi positif dengan angka kematian sekitar 13 persen. Namun, virus yang ditemukan di Indonesia didominasi tipe Seoul virus, berbeda dengan Andes virus yang sempat ramai diberitakan di luar negeri.
| Baca juga: Kenali Katarak dan Glaukoma Sejak Dini |
"Kasus di Indonesia didominasi Seoul virus yang menyerang ginjal dan hati, sedangkan Andes virus lebih banyak menyerang paru-paru dan dapat menular antarmanusia," kata dr. Novi.
Ia menambahkan, penularan hantavirus terutama berasal dari debu yang terkontaminasi urine maupun kotoran tikus. Karena itu masyarakat diimbau tidak membersihkan kotoran tikus dengan cara menyapu dalam kondisi kering.
"Semprotkan terlebih dahulu dengan disinfektan, kemudian bersihkan menggunakan lap basah agar partikel yang berpotensi mengandung virus tidak beterbangan ke udara," jelasnya.
Selain menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, masyarakat juga dianjurkan mengendalikan populasi tikus, menyimpan makanan dalam wadah tertutup, mengelola sampah dengan baik, serta menggunakan alat pelindung diri ketika membersihkan gudang atau lokasi yang berpotensi menjadi sarang tikus.
Menurut dr. Novi, kelompok seperti petugas kebersihan, petani, hingga masyarakat yang sering terpapar lingkungan kotor memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit yang ditularkan tikus sehingga perlu meningkatkan kewaspadaan.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam disertai riwayat kontak dengan banjir, kotoran tikus, atau lingkungan yang banyak tikus. Diagnosis dan penanganan sejak dini dinilai menjadi kunci untuk mencegah komplikasi yang lebih berat.
"Menjaga kebersihan lingkungan merupakan langkah sederhana, tetapi sangat efektif untuk mencegah penyakit yang ditularkan tikus. Pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan," pungkas dr. Novi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....