Kenali Katarak dan Glaukoma Sejak Dini
- 30 Jun 2026 12:32 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung: Katarak dan glaukoma merupakan dua penyakit mata yang paling sering dialami seiring bertambahnya usia. Meski sama-sama dapat menyebabkan gangguan penglihatan hingga kebutaan, keduanya memiliki penyebab, gejala, serta penanganan yang berbeda sehingga masyarakat perlu mengenali perbedaannya sejak dini.
Disampaikan dalam kanal YouTube Kata Dokter oleh dr. Gammarida Magfirah pada tayangan 17 Juni 2026, katarak merupakan kondisi ketika lensa mata yang normalnya jernih berubah menjadi keruh. Akibatnya, cahaya yang masuk ke retina tidak dapat difokuskan dengan baik sehingga penglihatan menjadi buram dan berkabut.
Menurut dr. Gammarida Magfirah, penyebab utama katarak adalah proses penuaan atau degeneratif. Namun, kondisi tersebut juga dapat dipicu oleh cedera mata, paparan sinar ultraviolet secara berlebihan, penyakit kronis seperti diabetes melitus dan hipertensi, penggunaan obat kortikosteroid dalam jangka panjang, hingga faktor keturunan. "Lensa mata yang keruh tidak dapat kembali jernih dengan sendirinya sehingga memerlukan penanganan medis sesuai tingkat keparahannya," jelasnya.
Sementara itu, glaukoma merupakan penyakit yang terjadi akibat meningkatnya tekanan di dalam bola mata atau tekanan intraokular. Tekanan tersebut dapat merusak saraf optik yang berfungsi mengirimkan informasi visual ke otak. Apabila terlambat ditangani, kerusakan saraf optik bersifat permanen dan berisiko menyebabkan kebutaan.
Ia menjelaskan, peningkatan tekanan bola mata dapat dipengaruhi oleh gangguan aliran cairan mata, cedera, penggunaan obat tertentu, maupun penyakit penyerta seperti diabetes dan hipertensi. Karena itu, glaukoma memerlukan diagnosis dan terapi sedini mungkin untuk mencegah kerusakan yang lebih luas.
Gejala katarak umumnya ditandai dengan pandangan kabur seperti tertutup kabut, kesulitan melihat pada malam hari, mata menjadi lebih sensitif terhadap cahaya, serta muncul rasa silau saat melihat sumber cahaya. Pada kondisi yang sudah berat, seluruh lensa mata menjadi keruh sehingga penglihatan dapat hilang hampir sepenuhnya.
Berbeda dengan katarak, penderita glaukoma biasanya mengalami penyempitan lapang pandang sehingga penglihatan menyerupai melihat melalui lorong atau terowongan. Selain itu, glaukoma juga dapat disertai mata merah, nyeri hebat pada mata, sakit kepala, mual, hingga penurunan penglihatan yang berlangsung perlahan maupun mendadak.
Dr. Gammarida Magfirah mengatakan usia lanjut menjadi faktor risiko utama kedua penyakit tersebut. Risiko juga meningkat pada penderita diabetes melitus dan hipertensi, yang memiliki peluang lebih besar mengalami gangguan mata dibandingkan masyarakat tanpa penyakit penyerta. Selain itu, cedera fisik, cedera akibat bahan kimia, maupun paparan cahaya berlebihan turut meningkatkan risiko terjadinya katarak maupun glaukoma.
Untuk penanganan katarak, penggunaan kacamata atau lensa kontak dapat membantu pada tahap awal. Namun apabila kekeruhan lensa sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, tindakan operasi penggantian lensa dengan lensa buatan menjadi pilihan utama agar kemampuan melihat dapat kembali membaik.
Sementara pada glaukoma, terapi diawali dengan pemberian obat tetes mata untuk menurunkan tekanan bola mata. Jika belum memberikan hasil optimal, dokter dapat menambahkan obat minum atau melakukan tindakan laser seperti trabeculoplasty guna memperbaiki saluran pembuangan cairan mata sehingga tekanan di dalam bola mata dapat berkurang.
"Tata laksana yang cepat dan tepat sangat menentukan kualitas penglihatan pasien. Pada glaukoma, keterlambatan pengobatan dapat menyebabkan kerusakan saraf optik yang bersifat permanen sehingga risiko kebutaan menjadi lebih besar," ungkap dr. Gammarida Magfirah.
Untuk menjaga kesehatan mata, masyarakat disarankan menjalani pemeriksaan mata secara rutin sedikitnya satu kali dalam setahun, terutama bagi kelompok usia lanjut atau yang memiliki riwayat diabetes dan hipertensi. Pola makan bergizi yang kaya vitamin dari sayuran hijau, wortel, buah-buahan, serta kacang-kacangan juga berperan menjaga kesehatan mata.
Selain itu, penggunaan pelindung mata saat bekerja di lingkungan berisiko, membatasi paparan sinar ultraviolet dan cahaya biru dari perangkat digital, menjaga kebersihan lensa kontak, serta membersihkan riasan mata sebelum tidur menjadi langkah sederhana yang dapat membantu mencegah gangguan kesehatan mata.
Apabila mata kemasukan benda asing, masyarakat diimbau tidak mengucek mata. Pertolongan pertama dapat dilakukan dengan membilas mata menggunakan air bersih melalui metode irigasi. Jika keluhan tidak membaik atau mata tetap terasa nyeri dan merah, segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....