Kenali Perbedaan Anak Aktif dan Hiperaktif
- 30 Mei 2026 21:16 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Orang tua perlu memahami perbedaan antara anak yang aktif dan hiperaktif agar dapat memberikan pendampingan yang tepat bagi tumbuh kembang anak. Kesalahan dalam menilai perilaku anak berisiko membuat gangguan perkembangan dan kesehatan mental tidak terdeteksi sejak dini.
Dokter Spesialis Anak, dr. Nunki Andria, Sp.A, dalam tayangan Kanal YouTube Kata Dokter pada 16 Mei 2026 menjelaskan bahwa kecerdasan motorik merupakan kemampuan anak mengontrol dan mengoordinasikan gerakan tubuh, sedangkan kecerdasan kognitif adalah kemampuan berpikir, menganalisis, menilai, serta memecahkan masalah. Menurutnya, perkembangan kedua aspek tersebut dipengaruhi faktor internal seperti genetik dan faktor eksternal berupa lingkungan, pola asuh, stimulasi, serta pemenuhan kesehatan anak.
"Anak yang mendapatkan stimulasi tentu memiliki kemampuan yang berbeda dibandingkan anak yang tidak mendapatkan stimulasi yang cukup," ungkap dr. Nunki Andria. Ia menambahkan, nutrisi seimbang, imunisasi lengkap, serta lingkungan yang aman dan nyaman menjadi faktor penting dalam mendukung perkembangan optimal anak.
| Baca juga: Kenali Vertigo dan Cara Mencegahnya |
Lebih lanjut, dr. Nunki menjelaskan bahwa anak usia 1 hingga 3 tahun atau kelompok toddler umumnya sangat aktif karena sedang berada pada fase eksplorasi. Pada usia tersebut, anak cenderung berlari, melompat, memanjat, serta ingin menyentuh berbagai benda di sekitarnya. Kondisi tersebut masih dianggap normal dan merupakan bagian dari proses belajar anak mengenal lingkungan.
Menurutnya, orang tua dapat mengarahkan aktivitas anak dengan bermain bersama atau memanfaatkan berbagai alat sederhana di rumah sebagai sarana stimulasi. Pendampingan yang tepat akan membantu anak belajar lebih terarah tanpa menghambat rasa ingin tahunya.
Namun, kata dr. Nunki, orang tua perlu waspada apabila perilaku tersebut terus berlanjut setelah anak berusia empat tahun. Tanda yang perlu diperhatikan antara lain sulit fokus, tidak bisa duduk tenang, sering mengganggu teman, tidak sabar menunggu giliran, berbicara berlebihan, serta terus bergerak seolah-olah didorong motor.
"Jika tanda-tanda tersebut muncul dan mengganggu aktivitas belajar maupun sosial anak, sebaiknya dilakukan konsultasi dengan dokter spesialis anak untuk evaluasi lebih lanjut," kata dr. Nunki.
Selain masalah hiperaktivitas, dr. Nunki juga menyoroti pentingnya komunikasi antara orang tua dan anak. Ia menyarankan agar orang tua menyediakan waktu khusus untuk mendengarkan cerita anak tanpa gangguan gawai sehingga hubungan emosional dapat terbangun dengan baik.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyinggung pentingnya perhatian terhadap kasus perundungan atau bullying di lingkungan sekolah. Menurutnya, perubahan perilaku seperti anak yang tiba-tiba enggan berangkat sekolah dapat menjadi tanda adanya masalah yang perlu segera ditelusuri.
"Jika anak menjadi korban bullying, dengarkan ceritanya sampai tuntas, berikan dukungan, dan laporkan kepada pihak sekolah agar kejadian serupa tidak terulang," ujarnya.
Dr. Nunki menegaskan bahwa korban perundungan perlu mendapatkan perlindungan dan pemulihan, sedangkan pelaku bullying juga membutuhkan pembinaan agar menghentikan perilaku yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Ia mengingatkan bahwa perilaku perundungan dapat berdampak serius terhadap kesehatan mental korban dan bahkan berpotensi menimbulkan konsekuensi hukum bagi pelakunya.
Sebagai langkah pencegahan, ia mengajak orang tua untuk membangun pola asuh yang penuh kasih sayang, memberikan teladan yang baik, serta tidak ragu berkonsultasi dengan tenaga profesional apabila menemukan tanda-tanda gangguan perilaku atau kesehatan mental pada anak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....