Bandung Cancer Society, Komunitas Perempuan Tangguh Penyintas Kanker

  • 26 Apr 2026 14:01 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Semangat juang Kartini, tak kan lekang sepanjang masa. Bukan hanya berjuang untuk kesenjangan derajat dan hak, namun juga berjuang untuk melawan suatu penyakit.

Seperti perjuangan para perempuan penyintas kanker di Kota Bandung yang tergabung dalam Bandung Cancer Society (BCS). Tak hanya berjuang melawan penyakit kanker, para perempuan tangguh ini juga memberikan dorongan, semangat hidup, dan harapan kepada para perempuan lainnya yang didiagnosis mengidap penyakit mematikan ini.

Bertajuk Inspirasi Bersama Kartini Masa Kini Bandung Cancer Society (BCS) berupaya mempertemukan para penyintas dalam satu ruang. Berbagi, menguatkan, dan menyalakan harapan.

Ketua BCS, Yanti Setiawadi mengatakan, didiagnosis mengidap kanker, bukanlah akhir dari perjalanan hidup. Namun sebuah awal baru dalam kehidupan.

“Cara ini, kita sebagai wanita itu jangan merasa rendah diri. Karena kita sebagai wanita, walaupun kita penyintas kanker, yang mungkin sudah kehilangan payudara atau kehilangan dari rahim kita, tapi kehidupan kita itu masih bisa bermanfaat, masih bisa berguna buat orang lain,” ujar Yanti di sela kegiatan bertajuk Inspirasi Bersama Kartini Masa Kini, memeringati Hari Kartini di Kota Bandung, Minggu 26 April 2026.

Yanti menegaskan bahwa pengalaman menghadapi kanker justru bisa menjadi bahan bakar untuk menguatkan sesama. Memberikan semangat hidup dan harapan baru.

“Dan apa yang pernah kita alami, walaupun kita pernah kanker, tapi itu menjadi satu pemicu buat kita. Pemicu untuk semangat dan kita bisa berbagi dengan orang lain untuk menambah semangat mereka juga,” katanya.

Komunitas ini lahir dari kebutuhan paling mendasar, tidak merasa sendirian. Sebab, bagi banyak pasien, kanker bukan hanya soal fisik, tapi juga mental dan sosial.

“Kita mendirikan komunitas ini, supaya kita bisa saling berbagi pengetahuan, berbagi pengalaman, merasa ada teman seperjuangan dan teman seperjalanan,” tutur Yanti.

Dalam komunitas ini, kata Yanti, mereka berbagi berbagai macam informasi. Ia juga mengatakan, banyak informasi yang akhirnya salah dialami para penyintas kanker ini.

“Daripada dia sendirian atau bergabung dengan orang yang tidak kena kanker, kemungkinan pengetahuannya itu bisa salah. Lebih-lebih kalau cuma baca dari Google,” tegasnya.

Kini, Bandung Cancer Society telah memiliki lebih dari 600 anggota, tersebar di berbagai wilayah Jawa Barat seperti Sukabumi dan Garut. Jumlah itu belum termasuk pasien yang pernah singgah di rumah singgah mereka.

“Jadi mereka tidak merasa sakit sendiri. Kita yang terdaftar itu enam ratusan, di luar dari pasien yang pernah nginep di rumah singgah,” ungkapnya.

Di balik aktivitas komunitas, ada satu denyut kemanusiaan yang terus berdetak, Rumah Singgah Kasih. Tempat ini menjadi pelabuhan sementara bagi pasien kanker dari luar kota yang tengah berjuang menjalani pengobatan di Bandung.

Dengan biaya yang nyaris simbolis, mereka bisa bertahan di tengah proses medis yang panjang dan melelahkan.

“Mereka bisa mendapatkan nasi dan air minum. Mereka hanya bayar Rp10.000 untuk dua orang, untuk pendamping. Terserah mereka mau tinggal di situ berapa lama,” jelas Yanti.

Selama 11 tahun berdiri, sekitar 2.000 pasien telah keluar-masuk rumah singgah ini datang untuk menghadapi operasi, kemoterapi, hingga radioterapi yang bisa memakan waktu hingga satu setengah bulan. Namun di balik dedikasi itu, ada keterbatasan yang tak bisa diabaikan.

“Donasi dana kita hanya dari mulut ke mulut. Untuk itu mungkin kalau ada yang mau berdonasi, bisa kontak kita. Bisa terbentuknya tidak selalu uang. Bisa berbentuk hanya sayur, buah,” ujarnya.

Cerita perjuangan ini juga diperkuat oleh suara penyintas sekaligus tenaga medis, Theresia Monica Rahardjo. Ia mengingatkan bahwa kekuatan mental harus berjalan beriringan dengan kesadaran medis.

“Yang pertama itu harus selalu kuat. Dan juga harus selalu penuh motivasi dan memberikan dampak positif kepada di sekitarnya,” ujarnya.

Menurutnya, banyak kasus kanker terlambat ditangani karena rasa tabu dan ketakutan untuk memeriksakan diri.

“Jangan merasa tabu karena banyak yang masih sungkan untuk kontrol. Entah kanker payudara, entah kanker leher rahim, entah kanker lainnya,” tegasnya.

Ia menekankan pentingnya deteksi dini melalui pemeriksaan rutin, seperti mamografi dan USG untuk kanker payudara pada usia 40 tahun ke atas, serta pap smear tahunan untuk kanker leher rahim.

“Bila dideteksi kanker itu sebaiknya mengikuti pengobatan secara teratur. Jangan menunda-nunda. Karena terapi pada saat awal, stadium awal itu tingkat kesembuhannya lebih besar,” jelasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....