Ternyata Serangan Jantung Bukan Tiba-Tiba!

  • 30 Mar 2026 00:44 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung -Serangan jantung kerap dianggap terjadi secara mendadak, padahal kondisi tersebut umumnya merupakan akumulasi kerusakan pembuluh darah yang berlangsung selama bertahun-tahun.

Hal itu diungkapkan dalam kanal YouTube YouTube milik dokter Henry Suhendra, Spot (K) @drhenrySuhendraSpOTK, tayangan 16 Maret 2026, yang menyoroti pentingnya perubahan gaya hidup sebagai kunci pencegahan penyakit jantung.

“Serangan jantung itu sebenarnya bukan serangan mendadak, tapi seperti bom waktu yang sudah lama terbentuk,” ungkap Henry, menegaskan bahwa proses penyakit bisa dimulai sejak usia muda tanpa disadari.

Ia mencontohkan kasus seseorang yang tampak sehat, rutin mengonsumsi obat darah tinggi, kolesterol, dan gula, namun tetap meninggal mendadak akibat gangguan jantung. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa obat seringkali hanya mengontrol gejala, bukan menghentikan proses penyakit.

Menurut Henry, berbagai penyakit metabolik seperti Hipertensi, kolesterol tinggi, hingga diabetes menjadi faktor utama yang perlahan merusak pembuluh darah sejak usia belasan tahun.

“Obat itu penting, tapi bukan solusi utama. Yang paling utama adalah perubahan gaya hidup atau lifestyle modification,” kata Henry.

Ia menekankan pentingnya pola makan alami dengan menghindari makanan ultra proses, yang kini banyak dikonsumsi masyarakat modern. Selain itu, asupan protein, terutama bagi lansia, juga perlu diperhatikan untuk menjaga kondisi tubuh tetap optimal.

Tak hanya pola makan, aktivitas fisik menjadi faktor kunci. Henry menyebut olahraga kardio dan latihan beban sebagai kebutuhan mutlak, bahkan di usia lanjut.

“Exercise itu tidak bisa ditawar. Harus ada kardio dan latihan beban, bukan hanya jalan santai saja,” ujarnya.

Selain itu, kualitas tidur dan pengelolaan stres juga berperan besar dalam menjaga kesehatan jantung. Stres berlebih dinilai dapat mempercepat munculnya berbagai penyakit kronis.

Pengamat kesehatan masyarakat, dr. Rina Putri, menilai edukasi ini penting karena masih banyak masyarakat yang menganggap penyakit jantung datang secara tiba-tiba. “Padahal ini proses panjang yang sering diabaikan sejak usia muda,” katanya.

Fenomena meningkatnya konsumsi makanan cepat saji dan gaya hidup kurang aktif turut memperbesar risiko penyakit jantung di Indonesia, terutama di usia produktif hingga lansia.

Melalui edukasi ini, masyarakat diingatkan bahwa menjaga kesehatan jantung tidak cukup hanya dengan obat, tetapi harus dimulai dari perubahan gaya hidup secara konsisten sejak dini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....