Ramadan: Mengapa Masih Lelah padahal sudah Beristirahat?

  • 07 Mar 2026 12:14 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Pernahkah Anda merasa lebih lelah meski sudah istirahat dengan cukup di bulan Ramadan? Lantas, benarkah hal itu disebabkan karena puasa, ataukah akibat perubahan yang belum terkelola dengan baik?

Sejumlah penelitian ilmiah menunjukkan sebenarnya tubuh mampu beradaptasi dengan pola puasa Ramadan. Publikasi jurnal menemukan puasa tidak meningkatkan kantuk di siang hari maupun mengganggu jam biologis tubuh secara signifikan.

Gambaran yang lebih luas disampaikan oleh Faris dan kolega yang diterbitkan di Sleep and Breathing pada tahun 2020. Analisis tersebut menunjukkan durasi tidur rata-rata berkurang sekitar satu jam dan skor kantuk siang hari sedikit meningkat, tetapi efeknya tidak drastis.

Lebih lanjut, penelitian menggunakan polisomnografi yang dipublikasikan dalam Journal of Sleep Research tahun 2014, memperkuat temuan tersebut. Saat jadwal tidur dan asupan kalori terjaga, puasa menunjukkan sedikit dampak apabila aktivitas harian diatur dengan baik.

Sementara itu, The American Journal of Clinical Nutrition (2018) menunjukkan tidak adanya perubahan signifikan pada metabolisme dasar. Artinya, rasa lelah yang muncul umumnya bukan karena tubuh kekurangan energi, melainkan akibat perubahan rutinitas harian.

Penjelasan ini diperkuat dalam ulasan Lessan dan Ali yang diterbitkan di jurnal Nutrients (MDPI). Mereka menjelaskan Ramadan memengaruhi hormon leptin dan ghrelin, serta perilaku makan dan tidur yang memengaruhi persepsi energi seseorang.

Kajian Frontiers in Nutrition (2023) juga menemukan korelasi antara pola makan, gaya hidup, dan gangguan tidur selama Ramadan. Hasil ini kembali menegaskan perubahan rutinitaslah yang dominan memengaruhi rasa lelah, bukan praktik puasanya itu sendiri.

Lalu mengapa kita tetap merasa lelah meski sudah tidur cukup? Saat Ramadan, waktu tidur sering menjadi lebih larut dan terpotong oleh sahur, sehingga ritme biologis berubah.

Penurunan fase REM serta perubahan hormon akibat jam makan ikut memengaruhi kualitas istirahat, meskipun secara jam tidur memadai. Dengan kata lain, kondisi ini tidak secara langsung disebabkan praktik puasanya.

Berbuka dengan makanan tinggi gula, kurangnya cairan, dan aktivitas malam yang berlebihan membuat sulit mencapai tidur yang restoratif. Kombinasi inilah yang sering kali menimbulkan kesan bahwa puasa identik dengan rasa lelah.

Dengan demikian, puasa Ramadan tidaklah secara langsung menyebabkan kelelahan berat pada orang sehat. Tubuh memiliki adaptasi yang baik, selama pola tidur, asupan nutrisi, dan aktivitas harian tetap dikelola dengan seimbang.

Puasa pada akhirnya bukan persoalan menahan lapar dan haus semata, melainkan juga soal manajemen diri. Ketika pola hidup diatur dengan bijak, Ramadan justru dapat dijalani dengan tubuh bugar dan pikiran yang lebih jernih.

(Penulis: Soniya Permata Surya)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....