Alexithymia, Saat Emosi Sulit Dikenali dan Diungkapkan

  • 09 Feb 2026 13:41 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung: Alexithymia merupakan kondisi neuropsikologis yang membuat seseorang kesulitan mengenali, memahami, serta mengungkapkan emosi diri sendiri maupun orang lain. Kondisi ini sering disebut sebagai kebutaan emosional karena penderitanya tidak mampu memberi label yang jelas pada perasaan yang dialami.

Istilah alexithymia pertama kali diperkenalkan oleh psikiater Peter Sifneos pada tahun 1973. Secara etimologis, kata ini berasal dari bahasa Yunani, yakni a- yang berarti “tidak”, lexis yang berarti “kata”, dan thymos yang berarti “emosi atau perasaan”. Menurut jurnal Psychotherapy and Psychosomatics yang ditulis Sifneos, alexithymia berkaitan erat dengan gangguan regulasi emosi dan kesulitan komunikasi afektif. Kondisi ini membuat individu cenderung mengalami hambatan dalam memahami pengalaman emosionalnya sendiri.


Baca Juga: Belimbing Wuluh Miliki Manfaat Kesehatan Namun Perlu Kewaspadaan

Individu dengan alexithymia umumnya menunjukkan pola pikir yang kaku dan sangat logis. Mereka cenderung fokus pada fakta dan realitas konkret dibandingkan pada aspek emosional dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana dijelaskan dalam jurnal Journal of Psychosomatic Research.

Ciri utama alexithymia meliputi kesulitan mengidentifikasi emosi serta kebingungan membedakan perasaan dengan sensasi fisik. Penelitian dalam jurnal Emotion Review menyebutkan bahwa penderita alexithymia sering kali menafsirkan emosi sebagai keluhan fisik, seperti tegang atau nyeri.

Dari sisi penyebab, alexithymia dapat bersifat primer yang sudah ada sejak lahir akibat faktor genetik atau struktur otak. Sementara itu, alexithymia sekunder dapat muncul akibat trauma, cedera kepala, atau gangguan kesehatan mental seperti depresi, PTSD, dan autisme spektrum.

Faktor budaya dan lingkungan sosial turut memengaruhi kondisi ini, terutama pada norma yang membatasi ekspresi emosi. Tekanan sosial yang menganggap pengungkapan perasaan sebagai kelemahan dapat memperkuat kecenderungan alexithymia.

Meski bukan gangguan yang dapat disembuhkan secara instan, alexithymia dapat dikelola melalui psikoterapi dan pelatihan kesadaran emosi. Jurnal Clinical Psychology Review menyebutkan bahwa terapi seperti Cognitive Behavioral Therapy dan pelatihan pengenalan emosi dapat membantu meningkatkan kemampuan regulasi emosi secara bertahap.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....