Multitasking Jadi Kebiasaan, Otak Gen Z Tertekan

  • 04 Feb 2026 13:55 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Generasi Z dikenal sebagai digital natives yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi dan keterhubungan digital yang sangat intens. Kondisi ini membuat banyak Gen Z terbiasa melakukan multitasking media, seperti berpindah cepat antara media sosial, tugas akademik, dan hiburan digital.

Kebiasaan multitasking tersebut dinilai memengaruhi cara kerja otak, khususnya dalam menjaga fokus dan konsentrasi. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa membuka beberapa aplikasi atau media secara bersamaan dapat menurunkan kemampuan otak dalam mempertahankan perhatian pada satu tugas.

Dalam kajian psikologi kognitif, multitasking sebenarnya lebih tepat disebut sebagai task switching, yaitu berpindah tugas secara cepat. Proses ini membuat otak bekerja lebih keras karena harus terus mengatur ulang fokus, sehingga berpotensi menimbulkan kelelahan mental.

Penelitian yang dilakukan oleh Ophir, Nass, dan Wagner dari Stanford University menyebutkan bahwa individu dengan kebiasaan multitasking media tinggi cenderung memiliki kemampuan perhatian yang lebih rendah. Studi tersebut juga menemukan bahwa multitasker berat lebih mudah terdistraksi oleh stimulus yang tidak relevan.

Baca Juga: Duduk Sejenak Cegah Pusing Saat Bangun Tidur

Selain itu, riset yang dipublikasikan dalam jurnal Computers in Human Behavior menunjukkan adanya hubungan antara multitasking digital dengan meningkatnya tingkat kecemasan dan stres pada mahasiswa. Kondisi ini diperparah oleh fenomena attention residue, yaitu sisa perhatian dari tugas sebelumnya yang masih terbawa ke tugas berikutnya.

Studi lain dari American Psychological Association (APA) mengungkapkan bahwa multitasking dapat menguras kapasitas memori kerja dan menghambat pemrosesan informasi secara mendalam. Akibatnya, kemampuan memahami dan menyimpan informasi penting menjadi kurang optimal.

Para ahli menyarankan agar generasi muda mulai membangun kebiasaan fokus dengan membatasi distraksi digital. Pengaturan waktu penggunaan gawai dan penerapan single-tasking dinilai dapat membantu menjaga fungsi kognitif dan kesehatan mental tetap optimal.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....