Pengadaan Obat di RSUD KHZ Musthafa Tetap Prioritas

  • 11 Jan 2026 20:48 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Tasikmalaya - Manajemen RSUD KHZ Musthafa, Kabupaten Tasikmalaya menanggapi kontroversi rendahnya nilai belanja obat dibanding belanja Jasa Pengelolaan Limbah B3, yang tertera dalam Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SIRUP) LKPP tahun 2026. Dalam data SIRUP Dinas Kesehatan menganggarkan Rp 1.224.000.000 untuk Belanja Jasa Pengelolaan Limbah B3, sementara, belanja nbat Rumah Sakit hanya tercatat sebesar Rp600.000.000.

Kabid Penunjang Pelayanan Kesehatan, dr. Sudaryan mengatakan, total keseluruhan belanja obat di rumah sakit tidak Rp600 juta seperti yang tertera di SIRUP. "Di SIRUP hanya menggambarkan pengadaan melalui metode E-Purchasing untuk kategori tertentu, seperti obat saraf, jantung, dan penyakit jiwa. Itu tidak menggambarkan kondisi sebenarnya," kata Sudaryan, Minggu, 11 Januari 2026.

Dengan rata - rata pasien per bulan yang mencapai 11 ribu orang, kebutuhan obat di RSUD KHZ Musthafa kata Sudaryan, sangatlah fantastis. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan tersebut, rumah sakit menggunakan dua metode pengadaan.

Baca juga : Warga Tasikmalaya Korban TPPO di Kamboja Dipulangkan

Pertama kata dia, dengan Metode E-Purchasing yang digunakan untuk obat-obat tertentu. Kemudian dengan metode Pengadaan Langsung yang digunakan untuk mengejar kecepatan ketersediaan stok obat.

“Nilainya rata- rata Rp 3 miliar per bulan. Justru lebih besar. Jauh lebih besar dari anggaran limbah. Yang jelas, kami tetap mengacu pada harga e-katalog agar tetap kompetitif dan sesuai aturan," katanya.

Sementara itu, untuk anggaran limbah B3 yang mencapai satu miliar lebih, itu merupakan proyeksi dari volume limbah yang dihasilkan rumah sakit setiap hari. Tahun sebelumnya, limbah yang dihasilkan rata- rata 8,5 ton limbah medis per bulan, atau sekitar 103 ton per tahun.

"Limbah urusan penting yang menyangkut keselamatan lingkungan. Maka tentunya anggaran sebesar itu digunakan untuk bermitra dengan pihak ketiga yang memiliki spesialisasi pengolahan limbah agar benar-benar tertangan," ujar Sudaryan.

Dengan meningkatnya aktivitas rumah sakit, tentu akan sejalan dengan penambahan volume limbah medis. Sehingga kenaikan anggaran penanganan limbah tentunya meningkat dibanding sebelumnya.

"Pelayanan masyarakat merupakan prioritas. Obat tentunya menjadi utama, bisa dikatakan jantungnya pelayanan. Kami pastikan ketersediaannya aman, meski dengan berbagai metode pengadaan. Kami juga berharap, dengan penjelasan ini masyarakat tidak salah paham,” katanya mengakhiri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....